Advertisement

Main Ad

Alumni 212

Label "Alumni 212" akhirnya melekat pada diri ini lantaran ini :

Lantaran #1? Karena saya hadir di dua gerakan tersebut, yaitu pada 2016 maupun 2018. 

Kenapa #2? Kedua-duanya saya hadiri secara kebetulan. 

Tapi sebenarnya bukan politik yang saya tuju dari aksi tersebut karena saya kurang fasih bicara soal politik, dan inilah catatan penting saya dalam memaknai 212.

Cinta dan shalat

Sebagai pemeluk agama Islam yang berjuang untuk tetap taat (istiqomah), harus memaksakan diri bangun shalat subuh pada saat adzan subuh berkumandang dan melakukannya berjamaah di masjid, musala, atau di manapun yang asyik. 

Tidak apa. Beribadah itu harus dibawa asyik. Ibadah dengan cara asyik, selain berpahala juga menyenangkan. 

Ibadah jangan dianggap beban, tapi minimal anggap sebagai rasa terima kasih kita kepada Allah Maha Pencipta yang telah memberi kenikmatan hidup sepanjang umur kita, nafas, gratis! tis!

Orang waras dan tahu sopan santun, akan berterima kasih bila diberikan kenikmatan. Gratis pula. 

Lalu kenapa Allah memberikan semua itu? Karena Allah cinta kepada mahlukNya.




Allah memberikan semua untuk kita, dari lahir, hingga nanti mati, di dalam kubur, hingga jalan kita menuju akhirat : surga atau neraka. Semua sudah Allah sajikan dalam jalan kehidupan kita baik di dunia dan akhirat kelak. 

Saat di dunia, kita berusaha agar bisa hidup enak, hidup nikmat, penuh kasih sayang, disenangi oleh yang cantik yang ganteng, dan pokokonya semua yang indah-indah. Kita berusaha dan kita pun mendapatkannya. Itu janji Allah.

Lalu berasal dari mana semua keindahan hidup tersebut? Semua dari Allah. Maka dengan semua yang kita dapat, kita seharusnya memiliki cinta kepada Allah. 

Sedangkan Allah hanya meminta kita untuk shalat 5 waktu saja, sebagai jawaban cinta Allah kepada kita, kepada para mahlukNya. Allah cinta pada kita, maka kita pun cinta pada Allah dengan mewujudkan apa yang dia minta. Shalat 5 waktu, adalah yang paling mendasar yang Allah minta.

Apakah itu berat? Hanya 5 kali dalam sehari, dan hanya memakan waktu paling lama 10 menit dalam 1 kali shalat (termasuk berwudhu). Nah cobalah kita jawab cinta Allah dengan shalat.

Mengaji 

Lalu kembali ke 212. Pada 2016, gerakan 212 terjadi tepat pada hari Jumat dan jantung peristiwa itu pun, tepat berada sangat dekat dengan masjid kantor saya. Oleh karena itulah akhirnya jadi ikut turun di peristiwa fenomenal, yang melibatkan jutaan peserta lainnya. 

Apa yang didapat dari 212 tahun 2016? Ada beberapa orasi yang sangat bermakna, namun dari kacamata saya -pada intinya, yang saya dapat ambil ilmunya adalah adalah tentang mengapa sebab orang Islam harus mengaji. Yaitu dalam memaknai ayat-ayat Al Quran, yang merupakan kalam Allah, kita harus mengaji. 

Karena dalam pengajian, ada orang-orang berkompeten yang ilmu tafsir Al Quran-nya sangat bermanfaat bagi umat Islam lainnya. Sehingga bila ada orang yang tidak pernah mengaji namun dia sembarangan memaknai Al Quran, akan sangat sesat dan menyesatkan. Apalagi orang non Islam dan memaknai Al Quran, tentu bahaya besar. Sssst.. Jangan dibahas lebih jauh ah.

Bagaimana dengan 212 di 2018? Untuk peristiwa ini, saya hanya tertarik pada ajakan untuk shalat subuh berjamaah. Karena di peristiwa 2 Desember 2018 itu, ada ajakan untuk shalat malam dan shalat subuh berjamaah. 



Namun saya mengambil tempat shalat subuh berjamaah di masjid Cut Meutia, bukan di Monas. Barulah selepas shalat subuh saya jalan ke Monas bergabung sebentar dengan yang lainnya dan kemudian pulang ketika kepadatan manusia semakin menggila. That's it. Itulah makna 212 bagi saya. Bukan politis dan bukan tendensius, tapi cinta Allah.

Post a Comment

0 Comments