Angrybow Services

Angrybow Creative Writing Services

Wajib Militer dari Perpektif Sosialita

Seorang perempuan, usianya sudah 67 tahun, sedang mencatat sesuatu di meja kerjanya. Ruang kerjanya hanya seluas 4x5 meter, dengan lampu penerangan bohlam 25 watt. Saat didatangi, dia sigap berdiri dan menanyakan apa yang bisa dibantu. Tak tampak ada gurat keramahan dan senyum dari wajahnya. To the point dan langsung pada hak dan kewajiban. Namanya Inge Stadtler, dia sudah bekerja sebagai customer service losmen di Hochgrat Mountain Park, Switzerland.

Bila sedang membaca, kaca mata yang digunakan pun sudah berukuran +5. Sehingga bola matanya terlihat besar bila dilihat dari lensa kaca matanya. Saya bersama dengan Martin Kaeser, seorang pria dari kantor pemerintahan Switzerland. Kami berdua mencari penginapan murah di sekitar Hochgrat, dalam rangka tugas mendata pengairan sungai daratan di kawasan Zurich.



Namun meski sudah setua, itu insting Mrs. Stadtler masih luar biasa. "Zurücktreten! Ich werde dieses tier erschießen.," ungkap Inge meminta waktu kami sejenak. Kata Martin, perempuan itu bilang, "Kita disuruhnya minggir. Karena dia mau menembak binatang di luar itu." Dan benar sekali, dia mengendap keluar dari pintu depan, dan "Blar!" suara senapan laras panjang dia tembakkan, hanya sekali tembak.

Dia pun berteriak lagi, "Steppen! Könnten Sie bitte dort nachsehen? Ich habe mich um diese Gäste gekümmert." Rupanya dia meminta tolong agar apa yang dia tembak itu dilihat, karena dia harus mengurus kami yang datang ingin menginap. Steppen adalah suaminya. Umurnya lebih tua lagi, mungkin kurang lebih sekitar 5 tahun lebih dia darinya. Dia yang mengurus hal-hal teknis.

Di usia segitu pun Steppen tampak masih gagah, didukung tinggi badannya yang sekitar 185 cm. Orangnya tidak banyak bicara.

"Okay, jetzt ist es sicher. Zumindest kommen sie nicht wieder," kata Inge. Hanya Martin yang paham bahasa Jerman tersebut. Menurut Martin, setidaknya sekarang sudah aman dan binatang-binatang itu tidak akan datang lagi dalam waktu dekat. Namun binatang apa sebenarnya? Saat itu jam menunjukkan pukul 18.20 waktu Hochgrat.

Steppen berjalan menuju arah objek penembakan, yakni di antara pepohonan rimbun di luar. Tak lama dia kembali dan menggeret seekor serigala cukup besar, yang sudah mati kehabisan darah. Luar biasa! Inge menembaknya dengan tepat. Menurut Martin, itulah orang-orang Swiss. Walaupun warga sipil, namun jangan kita meragukan kemampuan militernya. Menembak, berburu, beladiri, dan menggunakan senjata tajam untuk mempertahankan diri, adalah sebagai kemampuan dasar warga Swiss.

Pemerintah Swiss sendiri hanya memiliki 5 persen kekuatan militer organik. Sisanya adalah sukarelawan, yakni warga berusia 18-34 tahun (bahkan usia 50 tahun bila diperlukan) yang mengikuti semacam sistem wajib militer atau wamil. Namun siapa yang tak kenal Swiss Army di dunia ini? Meski hanya volunteer namun pelatihan militer yang mereka terima adalah totalitas. Jadi tak heran bila kita menemukan orang-orang tua berkemampuan seperti Inge di sana.

Meski warga di sana bukanlah orang-orang yang ramah seperti di Indonesia, namun angka kriminalitas di sana sangat rendah. Luas wilayahnya mungkin setara dengan empat kota besar di Indonesia bila dijumlahkan, yaitu Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar. Namun di angka kriminalitas Swiss, jauh lebih kecil dari jumlah angka kriminalitas di empat kota besar itu itu

Kuncinya, menurut Martin adalah saling respek antar sesama, tertib, dan patuh pada aturan pemerintah. Sikap saling respek ini, semakin tinggi ketika setiap warga paham konsekuensi. Secara kasar dapat dikatakan bahwa mereka saling paham; setiap warga memiliki hak dan kemampuan yang sama secara hukum untuk membunuh, dengan catatan bila terusik. Jadi pembunuhan sia-sia di sana tidak terjadi dengan mudah. Tak ada cerita yang kuat makan yang lemah.

Indonesia sendiri punya Pancasila yang di dalam butir-butirnya mengajarkan tentang apa yang diajarkan oleh pemerintah Swiss, bahkan lebih dari itu. Ditambah lagi sikap dasar ramah orang Indonesia, seharusnya nyaris tak ada kriminalitas. Perlukah Indonesia me-wamil-kan penduduknya? Mungkin perlu dikaji lebih dalam.

Tapi mungkin juga bisa setidaknya membantu menekan premanisme yang merajalela. Pasalnya, premanisme ini adalah ajang penerapan hukum rimba, siapa kuat dia menang. Setidaknya, bila sesama warga paham konsekuensi, maka kemungkinan warga pun bisa mengganyang preman dengan caranya sendiri berdasarkan skill yang mereka dapat secara hukum dari wamil-nya pemerintah. Namun inilah yang perlu kajian lebih dalam, karena bisa jadi bumerangnya adalah terjadinya ajang main hakim sendiri.

Meski Indonesia memiliki sikap keramahan, sayangnya kurang respek satu sama lain sehingga menyebabkan satu sama lain saling kurang percaya, dan parahnya berujung pada saling tidak bisa bekerjasama alias egoisme tinggi. Padahal untuk menjadikan suatu bangsa maju, kerjasama adalah hal utama. Inilah yang kemudian merangsek ke hal lainnya seperti ketertiban dan kepatuhan. Jangan bicara tertib bila sudah terjadi egoisme. Lalu bila sudah begitu, kepatuhan terhadap apapun akan .. Goodbye..

Comments