Hitung-hitungan HAM seorang pemimpin

Ternyata pada tahun 1933, Sang Fuhrer alias Adolf Hitler melakukan 'pembersihan' di bidang sumberdaya manusia, yang kemudian pada 1939 berhasil menciptakan lapangan kerja bagi rakyat Jerman. Namun caranya itu, membikin masyarakat dunia terperanjat.
Pengangguran pada 1933 sebanyak 6 juta orang, dan turun drastis menjadi hanya 300.000 pada tahun 1939. Ini dicapai dengan cara yang radikal; menghilangkan orang Yahudi dari pekerjaan mereka dan menggantinya dengan Jerman.
Ya, Hitler sangat rela mengorbankan 20 orang Yahudi demi 1 orang Jerman demi sebuah masa depan (pekerjaan). Menurutnya mungkin 1 orang Jerman adalah anugerah terbesar kehidupan, sedangkan 20 orang Yahudi dianggapnya sebagai hama kehidupan..

Foto diambil dari Getty Images

Selain menggeser Yahudi, Hitler juga menerapkan wajib militer bagi laki-laki, dan pemberdayaan laki-laki untuk pembangunan infrastruktur. Sehingga dalam hal infrastruktur, ulah Hilter tersebut berhasil memperluas jaringan jalan dan kereta api dan sebagian besar koneksi kereta api utama dan jalan raya (Autobahnen).
Itu tidak akan terjadi tanpa adanya rezim jahat, yang tidak keberatan menyita tanah dan memindahkan orang menjauh. Di satu sisi, Hitler membuat orang-orang Jerman merasa bangga dan membawa rasa kekuatan kembali ke negara itu, berkat ultranasionalisme atau chauvinisme.

Tapi di satu sisi lainnya, Hitler juga mencekam bagi sebagian rakyat Jerman. Orang-orang tidak memiliki hak kebebasan berbicara. Orang-orang merasa bahwa hidup mereka sepenuhnya dikendalikan oleh Nazi. Orang-orang bahkan tidak bisa membuat lelucon tentang Hitler tanpa mengambil risiko ditangkap.

Orde Baru

Dari paparan di atas, sepertinya kondisi masyarakat Jerman saat itu mengarah (bukan serupa atau mendekati) pada kondisi era Soeharto.
Maka sebagai blogger, bila ada yang secara khusus bertanya tentang sisi positif Orde Baru, saya akan bilang cukup banyak. Namun saya memang akan mengesampingkan aspek negatif yang luar biasa.
Di era beliau, Soeharto melalui Jenderal L.B Moerdani sepakat menyebar PetRus, yang siap memasukkan kepala para preman ke dalam karung. Preman dulu dianggap radikal yang dianggap mengganggu keamanan. Baik bromocorah maupun preman ideologi (kalau jaman sekarang mungkin ya buzzer Rp). 
Ada yang diuntungkan dengan kepemimpinan mereka dan ada juga yang terancam. Daerah-daerah operasi militer (DOM) seperti di Aceh, Timor-Timur, dan Papua, senantiasa sepi dari kejahatan yang meresahkan warga.

Dari sisi ekonomi, program Repelita I-V yang menjadi legenda terbesar negara ini, membuat Indonesia menjadi macan Asia. Dari sisi pendidikan, program CBSA (cara belajar siswa aktif) yang sukses diadopsi Malaysia, subsidi PTN hanya bagi mereka yang cerdas tangkas, dan dari sisi lainnya.
Lalu hasil Orde Baru saat ini apa? Di Jerman sendiri (berdasarkan beberapa tulisan para blogger Jerman), tampaknya sebagian besar orang Jerman siap menerima pemerintahan Nazi, karena ada unsur perbaikan yang bermanfaat ada saat ini.
Apakah sebagian rakyat Indonesia juga bisa menerima manfaat dari rezim Orde Baru di saat ini? Mungkin tidak sebagian besar. Namun manfaat peninggalan Orde Baru juga tidak bisa ditampik begitu saja. 


Tahun 1974-1976 salah satu program pemerintah untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negara Indonesia adalah membangun perumahan nasional (Perumnas). Adapun dulu orang-orang yang tinggal di kompleks ini adalah PNS Golongan IV dan militer. Lalu ada beasiswa Supersemar yang banyak menciptakan ahli-ahli sains. Dan masih banyak lagi..
Pada hakikatnya, begitulah pemimpin. Tidaklah layak seorang disebut pemimpin bila yang mereka kerjakan hanya berdampak pada saat itu saja, sehingga pekerjaan pemimpin harus visioner. Namun perlu dicamkan pula, bahwa seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan yang presisi, dalam hitung-hitungan hak asasi manusia (HAM).

Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Berita
English
Snow
Storytelling
Tokoh
Bahari