Angrybow Services

Angrybow Creative Writing Services

Dibalik Pemilu Indonesia yang Mematikan

Seorang pengacara senior dari Amerika Serikat yang khusus menangani hak suara pemilihan umum, Allison Riggs, mengatakan bahwa seorang pemilik hak suara saja, dapat melakukan tindakan sipil terhadap pelaku yang bersalah (bila memang terjadi).

Hal tersebut dikatakannya, menanggapi kemungkinan pelanggaran pemilihan umum di Kabupaten Bladen dan Robeson, Carolina Selatan, Amerika Serikat, akhir tahun lalu. "Para pemilih tidak selalu harus menunggu untuk melihat apa yang dilakukan dewan negara (Bawaslu, red) atau menunggu untuk melihat apa yang dapat dilakukan jaksa. Pemilih dapat melawan, untuk mengambil tindakan tegas untuk melawan, dan jadi kami ingin mengirim pesan itu juga,” ungkap Riggs kepada media massa, dengan harapan menjadi catatan bagi masyarakat di dunia.

Berkaca pada ucapan Riggs, ini menjadi sebuah pelajaran bagus bagi masyarakat Indonesia, dalam menghadapi ajang demokrasi rutin negara. Setiap kejanggalan, apalagi yang jelas-jelas merupakan tindakan intimidasi dan kesewenangan, harus dicatat, diverifikasi, dan dilaporkan ke setiap petugas Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Bila pun pelaporan tersebut dirasa meragukan oleh pelapor, maka mengacu the represent citizen seperti yang dikatakan Riggs, maka rakyat bisa melakukan upaya dengan memanfaatkan jalur bantuan, seperti memanfaat Change.org dan juga upaya lainnya sebagai media pembuktian.



Saat ini masyarakat Indonesia mungkin sedang melakukan apa yang dikatakan Rigs, yakni aksi represent citizen untuk bersama mengungkap sesuatu yang sedang marak menjadi pembicaraan publik di Indonesia. Yaitu terus menanjaknya jumlah kematian petugas. Awalnya, saat laporan di berbagai lokasi, korban tewas pasca pemungutan suara telah menginjak angka 50 orang mulai adanya spekulasi tentang penyebab kematian, apakah wajar atau tidak.

Kemudian spekulasi mulai menyebar setelah jumlah terus bertambah hingga di atas 100 orang. Lalu semakin menguat adanya dugaan yang aneh-aneh setelah jumlah korban mencapai angka 300 orang. Dan kini, telah mencapai lebih dari 510 orang, menjadi bahan perbincangan bahkan perdebatan di sana sini. Kenapa? Karena informasi terakhir, hanya satu alasan yang diketahui publik, mengenai angka kematian para petugas ajang pemilu itu, yakni kelelahan. Namun kemudian mewakili masyarakat yang bingung, dr. Ani Hasibuan seorang praktisi medis dan juga lembaga kemanusiaan Mer-C mempertajam fokus perhatian tentang kematian massal tersebut.

Bekerja sampai mati

Maka Angrybow yang mengambil sikap tetap berada di tengah analisa, tidak ingin ikut dalam perdebatan. Ada beberapa hal penting yang perlu diketahui dari kejadian ini, yaitu tentang kejadian bekerja sampai mati. Workaholic adalah istilah bagi mereka yang hobi bekerja. Di dunia ini tidak sedikit kematian lantaran terlalu banyak pekerjaan. Di Indonesia sendiri, pada 2013 lalu, seorang copyeditor iklan mengalami koma dan meninggal beberapa jam setelah bekerja lebih dari 30 jam. Sebelum meninggal dia berpesan dalam Tweet "30 hours of work and still going strooong."

Lalu di tahun yang sama di London, seorang karyawan Bank of America berusia 21 tahun setelah kejang dan epilepsi, diduga akibat dirinya terlalu aktif bekerja 72 jam terus menerus. Dan masih pada 2013, seorang jurnalis umur 31 tahun di Tokyo, ditemukan meninggal karena gagal jantung di tempat tidurnya (paywall), masih memegangi ponselnya. Dia rupanya baru menjalani kerja 159 jam lembur, dalam satu bulan.

Karoshi adalah istilah di Jepang, tentang kematian akibat terlalu banyak bekerja. Ini didefinisikan sebagai kematian mendadak karena serangan jantung, atau bunuh diri, setelah seseorang bekerja lebih dari 80 jam atau hingga 100 jam lembur dalam sebulan. Pada tahun 2017 pihak kementerian tenaga kerja Jepang mencatat 92 orang meninggal karena stroke atau serangan jantung yang disebabkan oleh jam kerja yang panjang, dan 98 pekerja melakukan atau mencoba bunuh diri. Jumlah tersebut diyakini masih belum menggambarkan fakta nyata, karena jumlah itu hanya yang dicatat dan diakui secara resmi. Mungkin bisa lebih banyak lagi.

Foto : CNDI.rt.com Jepang

Di Cina angka kematian akibat terlalu banyak bekerja, berkisar dari 1.600 sehari hingga 600.000 setahun. Sedangkan di Amerika Serikat, berdasarkan catatan profesor perilaku organisasi Stanford University Jeffrey Pfeffer, tempat kerja akan menjadi penyebab kematian nomor lima di Amerika Serikat. Hal itu dipaparkan dalam buku penelitiannya Dying for a Paycheck. Namun menurutnya, setelah berbincang banyak dengan mereka yang menangani SDM, peringkat lima bisa saja naik lagi. Kesimpulannya, kemungkinan Indonesia juga sedang mengalami karoshi dan juga seperti yang dialami Cina dan Amerika Serikat.

Maka saat ini yang sebaiknya dilakukan adalah mengambil hikmah dari kejadian di atas. Boleh saja kita bersemangat melakukan pekerjaan. Boleh saja kita menganggap adanya kecurangan sini sana, dan bertekad keras untuk menghimpun bukti dan melaporkannya. Namun tetap diingat bahwa manusia memiliki kemampuan terbatas. Just let it be. Semua sudah ada yang mengatur, jangan memaksakan yang akan over limit sehingga merugikan diri sendiri.