Perang terhadap HOAX feat. Panji Petualang

Kemarin sore, tepat di hari pertama bulan Ramadhan 1440 H saya pulang dari kantor setelah waktu sholat ashar. Seperti biasa, pekerjaan saya setelah memasuki pukul 14.00 WIB sudah lumayan longgar sehingga bisa mencari tambahan pengetahuan dari internet. Banyak sumber informasi yang bisa kita gali saat ini, di era informasi digital, baik yang berbentuk, artikel bebas, berita, hingga visual. Tentunya, seluruh bentuk informasi tersebut dikemas dengan cara apik, yang tujuan utamanya ialah meyakinkan pembaca dan penontonnya.

Ada mutualisme dari kedua interaksi ini (konsumen informasi dan produsennya) yaitu sama-sama mendapat tambahan. Dari level kepuasan, konsumen informasi mendapatkan apa yang ingin mereka ketahui. Dan bagi produsen, tentunya mendapat perhatian orang lain, yang diterjemahkan bentuk multiplier view (pembaca dan pemirsa). Kemudian keduanya, pada akhirnya, bisa saja berujung pada kesempatan perolehan materi. Dari sisi produsen informasi; bila mendapat jumlah pemirsa (viewers) yang memadai, maka dia akan mendapat sejumlah uang dari sponsor dan iklan. Dan bagi konsumen, bisa juga hal yang sama, bila mereka memang bisa memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan mencari materi.

Namun perlu juga diwaspadai, yakni informasi yang bertolak belakang dari kenyataan alias HOAX yang sangat merugikan, karena bisa berujung pada fitnah. Bentuk HOAX saat ini bisa disajikan dengan sangat mulus, mengingat karena banyak hal. Namun dua hal yang menurut saya penting diingat, yaitu : pertama, banyaknya peristiwa yang terjadi dan terekam di masyarakat. Kedua, banyaknya aplikasi penyunting (editing tools software). Kenapa saya menempatkan aplikasi penyunting di urutan kedua? Padahal HOAX sangat mudah dibuat dengan aplikasi. Ini yang harus diwaspadai. Karena HOAX yang tercipta dari manipulasi peristiwa lebih berat muatan fitnahnya dari manipulasi menggunakan perangkat.




Perlu dicamkan bahwa saat ini, kita hidup di dunia yang serba cepat. Semua hal sepertinya adalah satu kesatuan penting yang berhubungan. Ketika seseorang keceplosan mengatakan sesuatu, yang ternyata ucapannya itu mendukung sebuah peristiwa, maka bisa jadi dia beruntung bila ucapan itu tidak diingat banyak orang atau tidak terekam. Misalnya begini, Mr. X mengatakan di sebuah peristiwa yang sedang hiruk pikuk, "Mungkin dia memanipulasi data pakai pensil alis." Tapi ucapannya itu hanya dianggap angin lalu, alias didengar banyak orang tapi kemudian hirau saja sudah. Seperti tidak ada yang menganggap penting, apalagi ada mau yang merekam.

Namun berselang beberapa waktu kemudian, rupanya terjadi kejadian kecurangan yang merugikan suatu kawasan. Dari sekian banyak orang yang mendengar ucapan Mr. X ternyata ada salah satu yang mengingatnya. Dan kemudian (ini yang bahaya) dia terjemahkan ucapan itu sebagai suatu konspirasi. Lalu dibuatlah catatan : 


"Bahwa peristiwa kecurangan itu ternyata terjadi dengan terencana, karena ada campur tangan Mr. X yang diduga telah mengetahui akan adanya kecurangan namun dia diam saja. Faktanya, Mr. X pernah mengatakan pada tanggal sekian di depan banyak orang bahwa dia mengetahui adanya penggunaan pensil alis untuk memanipulasi data, sehingga kecurangan tersebut sebenarnya bisa dicegah oleh Mr. X. Maka dalam hal ini kunci penyebab kejadian tersebut sebenanya adalah Mr. X."

Akibat tulisan itu akhirnya terjadilah keributan besar karena rupanya Mr. X adalah seorang tokoh penting di sebuah komunitas. Padahal awalnya Mr. X hanya mengatakan "mungkin" yang artinya sesuatu yang tidak absolut. Pengikut Mr. X pun sangat murka dan membuat aksi yang brutal. Situasi pun semakin memanas karena bla bla...  (dan seterusnya).

Nah peristiwa seperti itulah yang dimaksud sebagai nilai muatan fitnah. Maka untuk menghindari gejolak, minimal gejolak diri sendiri, dari perbuatan HOAX, setiap konsumen informasi harus memiliki kebijaksanaan atas informasi. 

Perhatikan lima hal di bawah ini :

1. Saat membaca, mendengar, atau melihat sebuah peristiwa, yang harus dilakukan adalah membuat skema sebab-akibat. Adanya kejadian tentunya akibat dari kejadian sebelumnya. 

2. Gunakan analisa seoptimal mungkin sebelum membuat keputusan percaya atau tidak atas informasi tersebut dan mawas diri sebelum menangapi informasi.

3. Jangan terlalu dekat dengan orang-orang yang bersifat responsif karena kita bisa ikut terbawa arus gelombang yang merugikan.

4. Cari sumber informasi yang telah terfiltrasi. Jangan mudah percaya sumber-sumber informasi dari luarnya saja, apalagi dari kesan awal. Ingat selalu kalimat, "Don't judge the book by its cover" di setiap suguhan informasi. Buletin yang keren dari bahan yang bagus, warna atraktif, typography yang menarik, atau tayangan dengan opening scene yang tinggi visualisasi, efek menakjubkan, dan sebagainya, ingat! Kesemuanya hanya untuk menarik perhatian saja. Namun yang terpenting adalah baca maksud dari isinya. Bila ada yang janggal, maka jangan dipercaya, waspada. 

5. Dan yang terpenting : telusuri. Penyaji informasi yang dipercaya, memiliki track record yang baik. 

Khusus untuk hal kelestarian alam dan lingkungan hidup, salah satu yang memiliki track record baik adalah National Geographic yang baik berbentuk tulisan hingga visual, mudah untuk kita cerna dan sangat masuk akal. Kita bisa mengambil banyak rujukan informasi tentang alam dan lingkungan dari sana. Sebenarnya National Geographic juga menyajikan konten politik, ekonomi, dan juga hukum. Tapi terlalu rumit bagi saya untuk mereview. 

Lalu untuk yang lebih spesifik, dalam hal ini dari sisi media informasi visual, bagi yang menyenangi satwa liar, ada channel buatan Indonesia yang juga tak kalah ber-track record baik, yaitu Panji Petualang. Channel berbentuk vlog ini bagi saya dibuat dengan cara yang murni, tanpa percobaan HOAX di dalamnya. Ini lantaran Panji Petualang sebagai pemilik vlog, langsung membuat klarifikasi yang memang riil, logis, dan bukan jawaban pengalihan. Inilah pentingnya pengelolaan supervisi vlog oleh pemiliknya sendiri alias bukan oleh anak buah atau pihak management. Supaya konten vlog tetap terpercaya. 




Review tentang Panji Petualang ini pun pernah saya buat sebelumnya; di sini dan merasa terhormat juga saya, karena sang pemilik vlog telah membaca review tersebut dan memberikan tanggapan positif. Pada hakikatnya, di era informasi bebas ini, masyarakat membutuhkan banyak pembelajaran dari berbagai pihak. Penting untuk membangun dan membina komunikasi yang baik, sehingga kita sendiri yang akan menolong diri sendiri dari kesesatan informasi, melalui jaringan kerja yang baik.

Ad Code

Berita
English
Snow
Storytelling
Tokoh
Bahari