Advertisement

Main Ad

Upaya Atasi Kesenjangan Teknologi dan Digitalisasi

Di era millenium (2000-2010) dan post millenium (2010-2020), bicara soal kesenjangan digital tak ubahnya seperti bicara kesenjangan taraf hidup. Bahkan sebelum milenium, yakni era 90's pun, digitalisasi sudah mulai berpacu dengan sendi berkompetisi ekonomi. Dengan menekan kesenjangan hingga ke titik terendah, maka kita sama dengan berupaya menekan kemiskinan.

Masih ingatkah dengan cara profesional sales di bidang consumers good (produk kebutuhan rumah tangga) pada sekitaran tahun 1993-1998 dalam berburu kebutuhan informasi? Ya, mereka berlomba memanfaatkan bantuan alat komunikasi penyeranta atau pager. Mereka melakukan itu demi mengejar kecepatan dan ketepatan proyeksi permintaan (demand) di lapangan. Sehingga dengan informasi yang cepat dan tepat, mereka bisa segera mampu membuat pemetaan penjualan, plus strateginya. 

Apa yang terjadi di masa terdahulu, haruslah menjadi pelajaran berharga di masa depan. 
Maka dari sisi penggunaan teknologi, pelajaran yang harus diambil bagi suatu bangsa adalah, kemajuan teknologi suatu bangsa terjadi berkat upaya individunya. 
Dari kegiatan individu, implikasinya pasti ke kehidupan bermasyarakat. 

Implikasi teknologi informasi di saat itu adalah, provider penyeranta berbondong-bondong membuat inovasi-inovasi kemudahaan penyampaian informasi. Dari mulai digitalisasi visual animasi (yang masih sederhana kala itu) hingga pengembangan connection infrastructure yang bekerjasama dengan penyelenggara telekomunikasi. Siapapun yang teknologinya kurang interaktif dan menarik, mereka bakal tutup usaha atau melakukan merger dengan penyedia informasi lainnya. 

Penyeranta (Pager)

Di era milenium pun sama. Saat perang warnet menjamur di awal era ini, tak usah diragukan lagi, pastinya warnet yang paling banyak meraup untung adalah yang mereka yang bisa menyediakan kecepatan internet yang unggul dari warnet lainnya. Implikasi teknologinya, tentu keunggulan digital connection management dan infrastruktur penyedia internet atau ISP (internet service provider). Kesenjangan atau gap kecepatan internet menjadi celah kekalahan. Bukan hanya saat itu, tapi hingga sekarang.

Kesenjangan Teknologi

Maka kesenjangan teknologi dan digitalisasi, tidak boleh terjadi di sektor manapun. Di era 90an, para provider penyeranta memasang tarif bulanan dari Rp 30 ribu-35 ribu. Namun yang mampu menyediakan kecepatan pengiriman pesan terbaik, mereka yang laku keras. Kemudian di era ISP, siapa yang murah namun mampu menyampaikan data dengan cepat dan tepat, dialah yang dipilih. Lainnya, gugur atau mundur teratur.

Adapun dari sisi kecepatan teknologi di era awal milenium, penyampaian data di Indonesia masih menggunakan GPRS (General Packet Radio Service). Dari GPRS kemudian berlanjut ke 2nd Generation of GPRS yang disebut 2G, lalu menjadi 2,5G dan berkembang terus menjadi 3G dan 4G. 



Lalu masuk ke era post milenium, dapat dilihat bersama-sama bahwa dunia tak lagi bicara jaringan digital 4G apalagi GPRS. Teknologi digital dunia sudah di generasi kelima yakni 5G yang akan menjawab kebutuhan teknologi terapan (advance technology) yang semakin massal sifatnya. Meskipun secara umum, level digitalisasi Indonesia masih di tahap 4G. 

Indonesia sendiri, bukan tidak berusaha mengejar kesenjangan teknologi digital. Dalam membangun infrastruktur internet connection, Indonesia telah melakukan berbagai inovasi, dari kebijakan pemerintah yang mengatur lalu lintas penggunaan data dan pembuatan konten, hingga membuka luas investasi pemutakhiran teknologi menuju 5G. Karena Indonesia saat ini menempati urutan belakang di kawasan ASEAN dalam hal kecepatan internet.

Lalu dari sisi akademik, Indonesia juga telah mengenalkan potensi dan pemanfaatan internet sejak di bangku sekolah dasar. Karena sekarang sudah bukan saatnya lagi pelajar menekuni dasar-dasar pemograman komputer, melainkan sudah harus beranjak melakukan kreasi pemrograman. Kurikulum dan cara pengajaran pun harus berubah meninggalkan 'cara lama' yang sudah kedaluarsa. 

Pemanfaatan Aplikasi

Alhasil, kini bermunculan perusahaan start-up technology yang berupaya menyajikan kemudahan-kemudahan pemanfaatan advance technology di sendi-sendi kehidupan manusia modern melalui aplikasi.

Keunggulan teknologi digital kita lihat dari aplikasi yang tidak lagi kelamaan menyertakan nuansa "Loading" di layar komputer, laptop, dan gadget. Merekalah yang disebut teknologi idaman. Yang masih menyajikan peringatan "Loading" yang telalu lama dan bertele-tele, siap-siaplah ditinggalkan. 
Kemudian teknologi digital yang tidak mampu berkaitan satu sama lain dalam mendukung kemudahan teknologi digital, juga akan gugur.
Apa yang dimaksud dengan kalimat "teknologi digital yang tidak mampu berkaitan satu sama lain" itu? Tak lain adalah teknologi yang tidak bisa melebur dengan teknologi lain demi menunjang kemudahan hidup. Kita mengetahui bersama di sektor transaksi dan pembayaran, sudah banyak teknologi terapan dengan keunggulannya masing-masing, menciptakan produk pembayaran. Seperti E-Money, Flazz, GoPay, Dompet, dan sebagainya, namun kesemuanya melengkapi dirinya dengan induk pembayaran (gateway).
 
Dari situ kita bisa melihat, sisi kebijakan pun jangan sampai membuat kesenjangan. Bank Indonesia bahkan sudah membuat kebijakan payment gateway dimana satu perangkat teknologi menjadi induk bagi berbagai jenis pembayaran lainnya. Padahal dulu, BCA hanya menerima ATM sesama BCA, Muamalat dengan Mualamat, BNI dengan sesama bank BUMN, dan sebagainya. Namun demi menghindari implikasi gap teknologi yang merugikan, maka dibuatkan kebijakan yang dapat mengadopsi kemudahan pembayaran.

Dari sisi penggunaan teknologi, bayangkan bila ada perusahaan yang tidak bisa menerapkan teknologi pembayaran. Di jaman post milenium serba transaksi cepat ini, perusahaan yang buta teknolgi digital bisa kehilangan segalanya, dari mulai momentum penjualan, kalah berkompetisi, hingga diabaikan oleh konsumennya. Dan dari sisi infrastruktur, bila belum juga memutakhirkan (update) teknologi, maka akan tergilas oleh mereka yang sudah update



Post a Comment

0 Comments