Translate

Mekanisme Tubuh Suku Bajau Saat Menyelam

Tulisan ini didorong oleh masukan dari seorang dosen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB Adriani Sunuddin bahwa memang Suku Bajau unik secara genetik. Selamat membaca.



Sanggupkah seorang manusia menyelam hingga ke kedalaman 70 meter tanpa menggunakan peralatan selam? Yang terbayangkan bagi orang awam adalah ketika berusaha menembus kedalaman hingga 3 meter saja, cukup berat. Dan Suku Bajau menjelajah kedalaman perairan bukan lagi di ukuran satuan meter, melainkan puluhan meter dan tanpa dilengkapi peralatan selam utama yakni tabung oksigen. Kemampuan menahan nafas dalam air yang luar biasa pada Suku Bajau itu telah menggagas banyak ilmuwan di dunia untuk mencari tahu lebih banyak tentang toleransi hikpoksia.


Hipoksia adalah kekurangan oksigen pada tubuh pada manusia, yang bila tidak tertangani dengan baik secara medis, bisa mengakibatkan kematian. Dikutip dari jurnal ilmial CellPress, para peneliti diantaranya Melissa A Ilardo, Suhartini Salingkat, dan timnya, menemukan bahwa studi tentang toleransi hipoksia (sejauh mana tubuh manusia mampu menerima kondisi hipoksia), telah dilakukan di Tibet terhadap mereka yang tinggal di dataran tinggi. Dataran tinggi adalah tempat yang rendah oksigen. Dari penelitian itu didapat wawasan baru tentang penanganan hipoksia secara medis.  


Namun ternyata ada yang lebih menarik lagi. Mereka adalah orang-orang yang selama ribuan tahun hidup lebih ekstrim dari orang-orang di dataran rendah pada umumnya, yaitu terbiasa hidup di dalam tekanan air hingga puluhan meter. Siapakah mereka? Orang Bajo atau Suku Bajau. Mereka hidup berpindah-pindah lokasi di kawasan pesisir di sepanjang perairan Asia Tenggara selama lebih dari 1.000 tahun. Ketergantungan mereka adalah terhadap sumber daya laut. Ya, mereka memakan makanan yang ada di dalam laut. Belakangan ini mereka berhadapan dengan eksploitasi laut yang tinggi.  


Foto milik Kompas


Eksploitasi laut yang tinggi belakangan ini, karena tingginya kemajuan teknologi penangkapan ikan, memaksa mereka hidup ke darat. Tidak lagi menyelam di laut. Sangat disayangkan karena hal tersebut berkaitan dengan kelebihan Suku Bajau secara fisiologi dan genetik. Namun mengenai perubahan cara hidup tersebut, akan dibahas pada artikel berikutnya. Kembali pada kemampuan mereka menyelam dan bertahan di dalam air, tentunya Suku Bajau memiliki kemampuan menahan nafas di dalam air jauh lebih lama dari manusia normal.


Bila manusia biasa hanya mampu menahan nafas di dalam air (tanpa berkegiatan) maksimal hingga 2 menit atau mungkin lebih beberapa detik saja dan tidak sampai 3 menit, orang-orang Suku Bajau mampu berkegiatan di dalam air hingga 10-13 menit! Melissa dan Suhartini mengungkapkan bahwa kemampuan tersebut lantaran organ limpa pada orang-orang Bajo. Ukuran limpa mereka bahkan 50% lebih besar dari ukuran orang-orang pada umumnya di dunia ini. Limpa yang berkontraksi, akan memberikan dorongan oksigen untuk darah sehingga darah pun masih dapat pasokan oksigen.


Lebih jauh, para peneliti tersebut menjelaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan Ama di Jepang pada 1990 lalu, (Hurford et al., 1990), kontraksi limpa membantu peningkatan kandungan oksigen. Bila ukuran limpa seorang manusia lebih besar, maka kontraksinya bisa relatif lebih lama. 


Ilustrasi oleh  Melissa A. Ilardo, Ida Moltke,Thorfinn S. Korneliussen, Suhartini Salingkat, Rasmus Nielsen, Eske Willerslev. CellPress.


Ama menemukan, bila limpa berkontraksi tunggal, dia akan mengeluarkan 160 mLa pada sel darah merah. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan hemoglobin sehingga terjadi peningkatan kandungan oksigen hingga 9,6%. 


Kandungan oksigen yang meningkat hingga 9,6% ketika limpa berkontraksi tersebut, terjadi pada orang-orang normal alias orang yang bukan Suku Bajau. Maka bisa terbayangkan berapa peningkatan kandungan oksigen yang ada dalam darah orang Bajo ketika limpa mereka berkontraksi. Limpa seseorang bisa berkontraksi, salah satunya karena tubuh sepenuhnya masuk ke dalam air dan menahan nafas. Akan terjadi penyesuaian-penyesuaian tubuh karena seseorang berupaya bertahan di dalam tekanan air, dan salah satunya, penyesuaian oleh limpa.


Kesimpulannya, itulah penyebab kenapa manusia Suku Bajau mampu 'hidup' di dalam air dalam waktu belasan menit dibandingkan orang biasa yang hanya mampu hingga 3 menit saja. Namun mengenai kenapa ukuran limpa yang besar pada Suku Bajau tersebut bisa terjadi, hingga kini belum ada penelitiannya. Apakah karena Suku Bajau sering menyelam, sehingga menyebabkan perubahan genetik ukuran limpa mereka secara turun temurun? Ataukah memang karena faktor tempat tinggal mereka yang selalu di kawasan pesisir? Masih belum ada kesimpulannya.


Comments

Popular Posts