Angrybow Services

Angrybow Creative Writing Services

Harta, Tahta, dan... Lisa

Lelaki itu, dalam hidupnya biasanya (dan mungkin memang begitu) dimotori oleh tiga hal : harta, tahta, dan wanita. Tapi dalam hidup saya, wanita pertama yang bertahta di jalan hidup saya yang rada bragajulan ini adalah Lisa. Siapa Lisa? boleh diikuti terus ceritanya..


"Aku sendiri tak tahu apa yang dituntut mahasiswa pada hari itu. Yang pasti aku dan dia hanya ingin pulang ke Jakarta bersama, tanpa maksud ikut demontrasi. Hari itu, Jumat, 24 September 1999 waktu menunjukkan pukul 19.58 WIB. Aku dan Lisa berada tepat di seberang kampus Atma Jaya. Lisa berada di situ lantaran kesalahanku. 


Kuajak dia ikut melihat aksi mahasiswa. Tapi tiba-tiba, dari jembatan Semanggi lampu sorot besar menyala, menyorot jelas ke arah kerumunan massa. Dan ditengah kerumunan itu terdapat aku dan Lisa. Silau sekali lampu itu saat ditatap langsung.


Awalnya terdengar suara, seperti suara seseorang yang memerintah, agar masyarakat yang tak berkepentingan di area tersebut pulang saja. Suara itu terkadang terdengar jelas, terkadang tidak. Karena suara tersebut terdengar seperti dari TOA (alat pengeras). Berkali-kali suara perintah tersebut dikoarkan dari atas jembatan Semanggi.

 

Kemudian dari arah belakang (arah jembatan Casablanca), mendadak terdengar teriakan histeris dan suara tembakan, "Dar! Der! Dor!". Menyusul kemudian dari arah jembatan Semanggi, suara tembakan juga dilepaskan, menyasar ke arah kerumunan massa. Lisa memegang erat lenganku dan berkata dengan suara terbata-bata, "Ini.. Ini Gimana ini, Ang!" Aku langsung menarik lenganku yang dia genggam dengan erat, hingga genggamannya lepas. Lalu berbalik, aku yang menggenggam lengannya. "Lari Lisa! Lari!!", hanya itu yang bisa kuucapkan.


Aku lari sekencang mungkin sambil menggeret Lisa seperti menarik kerbau. Dia malah jatuh tersungkur di tanah. Aku sangat panik, buta mata dan buta hati. Ketakutanku luar biasa karena terjebak di situasi yang fatal. Lisa berteriak, "Aah! Ang! Tolong!!". Sedikit tersadar dari rasa takut yang membutakan hati, aku menoleh ke belakang. Tampak Lisa terlungkup di tanah, terinjak-injak massa yang juga sama-sama panik. Massa berlari ke arah Jalan Bendungan Hilir (Benhil). "Ya Allah!" ucapku.


Aku pun kembali berlari ke arah Lisa, kutabrak orang-orang dari arah berlawanan untuk menggapai Lisa. Aku pun berhasil kembali membangunkan Lisa. "Ayo Lisa agak cepat! Bisa mati kita di sini!", ucapku. Lisa pun bangkit dan kuseret kembali tangannya, namun dengan penuh perhitungan. Kami berlari tergesa seraya terseok. Bersama orang-orang, kami lari mengarah ke Jl Benhil. Terdengar suara desingan peluru menghantam pohon besar di pembatas tengah Jalan Raya Sudirman. Arah peluru dari jembatan Semanggi. 


"Ya Allah! Ya Allah!" gumamku sambil berlari bersama Lisa. Dalam hatiku aku berkata, apakah aku akan mati di sini? Dari tanganku, kurasakan masih menggenggam erat lengan Lisa. Artinya Lisa masih mampu berlari denganku. 


Akhirnya kami pun berhasil sampai di Jl Benhil bersama kerumunan massa. Tapi, Ya Tuhan! Rentetan tembakan masih terdengar sangat dekat. Apakah kami memang diburu untuk dibinasakan? Rasa takut seiring detakan jantung yang berdegup kencang membuat langkah semakin melemah. 


Aku pun berujar, "Lisa..."

"Lisa, gua lelah. Lelah banget."

"Terus bagaimana ini Ang?"







Aku melihat, ada gerobak bertuliskan "Terima Bikin Kunci Serep" di hadapanku. Aku dan Lisa pun mengarahkan langkah ke belakang gerobak. Tapi rupanya di belakang gerobak sudah ada orang-orang bertiarap, berlindung. Aku makin lemas. Lalu tak jauh dari gerobak tukang kunci, kulihat juga gerobak mie ayam yang mungkin sengaja di terbalikkan. Di bawahnya, juga tampak orang-orang tiarap berlindung. Ada tiga orang yang tiarap dengan gerobak mie ayam menindih tubuh mereka. 


Dan tiba-tiba, "Dor! Dor! Gerobak itu terhantam peluru. Namun peluru tidak menembus hingga ke orang yang ada di bawahnya. Dan kulihat ke arah Jl Raya Sudirman, orang-orang seperti ninja, namun membawa senjata. Ya ampun! Mereka itu tentara apa?? Tentara ninja? 


Merekalah yang menembakkan senjata langsung ke hadapan siapapun, membabi buta! Kulihat dan kuhitung ada satu, dua, tiga orang! Mereka bersimbah darah tergeletak di jalan raya itu. Sontak aku terkaget dan kembali panik luar biasa. Dan entah bagaimana, rasa lemas yang tadi menghinggap di tubuh, hilang! Mendadak muncul energi baru untuk kembali berlari. 


"Lisa! Lari!!" Aku pun bersama Lisa berlari lebih jauh ke dalam Jl Benhil. Suara rententan tembakan kembali keluar. Entah kenapa, aku malah menoleh ke belakang. Tapi yang kulihat bukan tentara ninja. Melainkan tentara lain yang berseragam loreng. Mereka menembakkan senjatanya, namun pucuk senapannya di arahkan ke bawah ke arah aspal. Belakangan yang kutahu, mereka adalah Marinir yang memang sengaja menembakkan pelurunya tidak langsung ke orang-orang.


Dan kembali, aku fokus berlari kencang. Aku dan Lisa berlari ke dalam Jl Benhil, hingga tampak ada sebuah rumah bertuliskan "Wartel" yang tak jauh dari langkahku berlari. 


"Lisa ke wartel Lisa! Ke wartel itu!"

"Iya Ang.." ujarnya ngos-ngosan.


Kami pun menuju wartel tersebut. Rupanya pintu wartel itu tidak lagi bisa dikunci. Mungkin karena sudah didobrak orang-orang, karena di dalamnya tampak beberapa orang sembunyi dan bertiarap. "Woi!! Masuk cepetan! Jangan bengong disitu loe!!" teriak salah seorang yang bersembunyi. Ada beberapa kamar bicara (KBU) wartel, namun kamar-kamar itu sudah terisi orang-orang yang bersembunyi. 


"Ang, bagaimana ini?" tanya Lisa yang juga sudah ikut panik. Aku pun memutuskan berjalan ke KBU yang paling belakang, dan kubuka pintunya. Orang di dalam KBU berteriak, "Woi jangan disini dong! Cari tempat lain!". Tak kuperdulikan orang itu dan kemudian kutendang dan kutarik paksa daun pintu KBU yang hanya terbuat dari plastik itu. Hingga akhirnya daun pintu berhasil terlepas. Daun pintu itulah yang kemudian kupakai berlindung. 


Aku dan Lisa mengambil sudut ruangan dan kami berjongkok di situ. Daun pintu KBU kami gunakan sebagai pelindung. Dalam hatiku berucap, semoga kami tidak dibantai di sini. 


Suasana di dalam wartel kembali sunyi senyap. Hanya terdengar rentetan tembakan dari kejauhan. Tapi tiba-tiba, suara tembakan dari arah dekat kembali terdengar. "Ya Allah, apalagi ini?" ucapku yang kembali panik. Terdengar derap sepatu boot dari arah depan wartel. Dan, "Dor! Dor!" Tentara menembaki wartel! Aku dan Lisa yang tadinya berjongkok di sudut belakang ruang wartel, langsung tiarap. "Tiarap Lisa!" ujarku dengan suara bisikan kasar. 


Kami tiarap dan daun pintu plastik itu, aku tiban ke badanku dan badan Lisa. Aku pun lemas selemas-lemasnya, pasrah, sepasrah-pasrahnya. Aku merasa mungkin disinilah ajalku datang. 





Si tentara mendobrak pintu wartel. Aku hanya bisa pasrah sambil melindungi kepalaku dengan tangan. Namun salah satu dari orang-orang yang berlindung pun berucap, "Tolong jangan tembak kami Pak Tentara. Wartel ini juga milik .... dari TNI AL Pak. Mohon jangan ditembaki." Setelah ucapan itu, tentara itu menjawab, "Siapa itu? Tunjukkan dirimu!" Si pemilik suara pun mengatakan bersedia menunjukkan diri dan meminta agar jangan ditembak. 


Perlahan si pemilik suara itu keluar dari persembunyannya di KBU nomor 2. Kulihat dia mengeluarkan tangannya terlebih dahulu. "Sini kamu!" kata si tentara. Aku masih tidak berani untuk melihat apa yang terjadi. Si pemilik suara pun menghampiri tentara itu. Sepertinya ada sekitar 2 atau 3 tentara yang masuk wartel. Mereka pun berbincang dan si pemilik suara tadi seperti tengah bernegosiasi. "Jangan matikan lampu!" kata tentara itu. Akhirnya pembicaraan selesai dan para tentara pergi. 


Si pemilik suara itu kembali masuk ke dalam KBU 2 tanpa berkata apa-apa. Kemudian ada yang menyeletuk, "Pak apa sudah aman?" Si pemilik suara di KBU 2 itu pun menjawab, "Belum. Jangan ada yang keluar sampai aman!" Lalu celetukan lainnya menanyakan, "Ya sampai kapan amannya?" Dijawab lagi, "Nggak tau saya!" Suasana kembali hening dan kami di dalam wartel masih belum ada yang berani mengambil tindakan. Kudengar isak tangis Lisa yang pasti juga shock. 


Sampai akhirnya terdengar sayup-sayup suara sirine. "Ada suara ambulan tuh! Kayaknya sudah aman!" celetuk salah satu dari kami. Aku masih belum memberanikan diri bertindak. Tapi aku mencoba memberanikan diri bertanya kepada mereka, "Ayo kita pergi dari sini saja?" Dan ada yang menjawab, "Ya udeh, loe duluan. Kita nanti ngikutin."


Aku pun memberanikan diri melangkah ke arah pintu wartel dan membukanya. Kuintip ke depan, suasana sudah mulai sepi. Kulihat ada pergerakan orang di jalan Benhil namun bukan aktivitas aparat militer. Mereka rupanya orang-orang yang juga berusaha pergi dari situ. "Ayo, sudah aman!" ujarku. Aku dan Lisa pun keluar dan melangkah dengan perlahan ke arah RSAL Mintoharjo. Kulihat jam menunjukkan pukul 22.10 WIB. 


Di depan gedung RSAL, suasana malah tampak agak berbeda. Tampak beberapa sopir Bajaj yang nongkrong seolah tak terpengaruh dengan kengerian yang terjadi 300 meter dari lokasinya. Juga tampak ada mobil Dian Taksi yang melintas dengan lampu plang kap atas yang menyala, yang artinya sedang kosong penumpang. Aku pun memanggil taksi yang sekarang sudah punah itu, dan meminta diantar ke Pesanggrahan, Pondok Indah, tempat Lisa tinggal. Dan berakhirlah kengerian yang kami alami hari itu. 


Sepanjang perjalanan, Lisa menyandarkan kepalanya ke pundakku dan menggenggam tangan kananku erat-erat, karena dia sangat-sangat shock. Dalam perjalanan itu aku bertanya-tanya pada diri sendiri, "Kenapa hal mengerikan itu harus terjadi?" Kenapa militer menembaki sipil yang tanpa senjata? Aku pun merasa bahwa peristiwa itu haruslah memberikan hasil yang sepadan di masa depan!


Comments