Malapetaka Menyelinap

ITK adalah salah satu jurusan program studi di kampus IPB University. Kepanjangannya, Ilmu dan Teknologi Kelautan. Di lantai dua musala gedung program studi ITK waktu itu, belum terbangun seluruhnya. Saat itu sisi bangunan yang ada, masih belum tertutup dinding atau bilik musala ITK. Sehingga masih seperti balkon, yang bisa langsung melihat pemandangan ke arah bawah gedung.


Kami adalah para mahasiswa TPB alias mahasiswa baru tingkat 1 yang berada di gedung itu untuk melakukan salat dzuhur. Waktu itu waktu menunjukkan pukul 11.55 WIB, pada Kamis, sekitar bulan September 1997. Kami sedang bersiap untuk mengambil air wudhu di gedung itu. Sambil menunggu giliran wudhu (karena hanya ada dua keran air yang menyala, dari 3 keran) saya melihat ke bawah gedung. Dari kejauhan tampak ada sesuatu yang bergerak cukup cepat. Gerakannya meliuk-liuk dan warnanya hitam. 


Foto : Shutterstock


Sudah jelas. Itu adalah ular. Dari ketinggian itu, bisa diperkirakan panjang si ular lebih dari 1 meter. Tapi ular jenis apa, kami tidak tahu. Yang pasti tak jauh dari radius ular itu bergerak, kami melihat teman-teman kami yang lain juga berjalan menuju ke arah ular itu.


Rumput-rumput ilalang tinggi di sekitar gedung kampus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) saat itu, masih banyak dan tumbuh liar mengelilingi sekitar kampus. Dari ilalang-ilalang tinggi itu, ada beberapa jalur setapak buatan, yang sudah dibikin khusus untuk jalan pintas dari arah Perpustakaan LSI menuju ke kampus perikanan. Sedangkan bila melintasi jalur semestinya, yaitu jalanan aspal, maka dari Perustakaan LSI ke kampus FPIK, rutenya harus sedikit berputar. (FYI, jurusan ITK ada di dalam kampus FPIK tentunya).


Kami, yang sedang berada di gedung lantai 2, 3, dan seterusnya dapat melihat jalur setapak buatan itu dari sudut pandang atas. Terutama dari lantai 2 yang tampak lebih jelas terlihat jalur setapak itu. Namun kali ini, ada masalah yang cukup mengerikan sedang mendekati jalur tersebut. 


Mereka, teman-teman kami yang sedang melintasi jalur setapak itu, sudah pasti tak akan tahu apa yang ada di depan. Karena sudut pandang mereka, tak bisa mencapai ketinggian yang layak, untuk melihat pergerakan di depan mereka. Istilahnya top position blind spot. Melihat itu, aku pun berujar, "Hei, teman-teman coba lihat itu di bawah. Itu di arah jam 2 kalian, terlihatkah?"


"Oh iya, ya ampun ular gede banget! Ular item itu! Mungkin juga ular tudung (kobra) dewasa," sahut salah satu dari kami bertiga yang akan melakukan salat dzuhur.

"Iya ya? Tapi kalian lihat juga tuh, coba tengok itu dari utara. Itu teman-teman kita yang sedang memotong jalur," ujarku.

"Ya Allah, iya betul. Woi! Awas ular!" ujar kami berteriak-teriak dari tempat kami.


Mereka mendengar teriakan kami, namun tampaknya tidak pula terdengar jelas apa yang kami teriakkan. Malahan mereka membalas tersenyum melambaikan tangan, seperti menyapa kami. Ada lima orang dari mereka yang melintas di sana, dua diantaranya perempuan. Ular yang sedang meliuk itu terus berjalan dengan santai, begitupun mereka pun juga. Yang kami kuatirkan adalah bertemunya perpotongan jalur lintas antara ular besar itu dengan mereka.


Bila ular besar itu adalah ular kobra dewasa, maka bahaya yang potensial adalah ketika kobra tersebut berpapasan dan kaget, kemudian mematuk kaki salah satu dari mereka. Taring ular kobra cukup kuat dengan bentuk melengkung kecil, dan posisinya berada di ujung mulut atau di depan. Posisi taring ini disebut proteroglyphus. Bila posisi menggigit kaki korban tepat, taring tersebut bisa menembus kain. Apalagi dengan ukuran sebesar itu, bisa (venom) yang dia suntikkan ke dalam tubuh manusia akan maksimal. Akibatnya, fatal.


"Waduh gimana ini?" ujar salah satu dari kami.

"Ya semoga saja tidak terjadi pertemuan jalur," ungkapku.

"Iya," ucap asa teman-teman yang lain. 

"Woi! Awas ular!" kami pun tetap berteriak sambil mengisyaratkan tangan.


Mereka kembali tersenyum dan melambaikan tangan seperti tadi. Kami tepat memantau dengan seksama pergerakan ular tersebut. Ternyata si ular semakin mempercepat gerakannya, mungkin karena dia juga merasakan ada langkah kaki mendekat. Ular tersebut pun tetap berjalan lurus ke arah barat, sementara teman-teman kami dari utara ular itu melangkah ke arah selatan. Ular pun semakin mendekat dengan kerumuman teman-teman kami itu. 


Ilustrasi : Angrybow



Ya Allah, mereka semakin dekat titik temunya! Dan ular itu, tampak semakin jelas perkiraan ukurannya, karena jadi terlihat perbandingan ukurannya dengan orang-orang yang mendekat. Ya, panjang ular itu mendekati 2 meter. 


Anggap saja itu adalah kobra Jawa (Naja sputatrix) dewasa. Berdasarkan jurnal ilmiah Biochemstry and Molecular (Belgia), dosis LD50 jenis kobra berkisar antara 6 to 7 μg/dosis. Ini artinya, semisal bila ada 100 orang mahasiswa di suatu kelas, yang berasal dari berbagai etnis di dunia, kemudian kita suntikkan 7 μg bisa kobra ke dalam tubuhnya, maka 50 orang diantaranya pasti akan tewas. Bagaimana dengan 50 lainnya? Ada yang bertahan dan ada pula yang akan cacat organ tubuhnya meski tidak sampai tewas. Ular ini juga mampu menyemburkan bisa tepat pada bagian mata lawannya. 


Ya ampun. Semoga tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dari atas, jalur mereka semakin menuju satu titik yang sama. Dan akhirnya.. 


Ternyata si ular lebih cepat. Untung saja. Mereka pun tidak bertemu di satu titik perpotongan jalur. Kami bertiga yang sedari tadi tegang, akhirnya menjadi lega. "Alhamdulillah," ungkap kami bertiga bersahut-sahutan seraya mengelus dada. Karena kelima kawan kami tidak sampai bertemu dengan ular tersebut.


Comments

Popular Posts