Pagi Pesisir

Intro 

Yazid dan Farida bertemu dalam suasana yang tidak biasa. Banyak sekali mata-mata dari Satuan Gabungan Intelijen (SGI) yang bertebaran di Aceh. Yazid harus berdiri di dua kaki, demi menyelamatkan dua hal, yakni pekerjaannya dan juga nyawanya sendiri. Kalau sampai tulisannya tidak mengenakkan bagi pihak GAM (Gerakan Acheh Merdeka), maka jangan harap dia bisa tenang selama di Aceh. Bahkan bisa jadi, ajalnya akan lebih cepat menjemput.

Sebaliknya, kalau membuat risau pihak TNI dengan alasan keamanan negara, maka dia bisa jadi target untuk dibinasakan. Di situasi yang serba tricky itu, ternyata Yazid mendapat teman baru yang sekaligus membuatnya semakin semangat mencari informasi jurnalisme. Kisah fiksi ini ada kaitannya dengan Ksatria Culun, kisah penulis yang telah diterbitkan sebelumnya.





 Seroja

Pagi itu Elya dan Ina, masih bersenda gurau dengan ayahnya, yang menjelang waktu sholat ashar, akan berangkat bersama-sama dengan tim pasukan Operasi Seroja ke wilayah Timor Timur. Farida kala itu masih jadi bayi merah alias baru 3 pekan usianya. Orang Betawi bilang, bayi umur segitu adalah orok, yang ukurannya masih sebesar betis orang dewasa dan warna kulitnya masih memerah. Memang tak semua nayi kulitnya memerah seperti Farida.

Biasanya, masih kata orang-orang, bila warna kulit bayi cenderung memerah, nanti ketika dia sudah besar kulitnya bisa jadi putih terang. Sedangkan bila ada orok yang kulitnya cenderung kuning langsat terang -banyak orang bilang kulitnya putih, padahal kuning langsat, nanti besarnya justru kulitnya jadi seperti sawo matang atau istilahnya eksotik. Tidak putih tapi tidak juga gelap.

Dan kebetulan Farida remaja, kulitnya memang putih terang dan mulus. Namun kembali ke masa itu, Elya dan Ina adalah kakak-kakak Farida yang usianya terpaut 2 dan 5 tahun darinya. Elya masih berusia lima tahun saat itu, baru duduk di bangku TK dan Ina baru dua tahun. Keduanya sedang asyik bermain gendong-gendongan kaki, yakni bergantian digendong oleh kaki ayahnya. Posisi sang ayah terlentang dan kakinya seperti dijadikan seperti ayunan untuk kedua buah hatinya itu.

Ketika sedang bersenang riang, mendadak dada kiri ayahnya seperti terasa tertusuk sesuatu. Sakit sekali rasanya. Dan tak lama nafasnya mulai terengah dan jantungnya berdegup cepat. Dia merasakan seperti kehabisan oksigen. Sejenak dia beranjak duduk dan mengatur nafas sambil memegang dadanya yang terasa seperti tertusuk itu, "Papa kenapa?" tanya Elya dengan polos.

Ayahnya menatapnya sejenak sambil mengeluarkan senyuman tipis, setelah itu kembali dia menahan sakit. Beruntung tak lama kemudian detak jantungnya kembali normal dan rasa sakitnya menghilang. Setelah rasa sakit benar-benar hilang, kembali sang ayah menggendong Elya dan melanjutkan bermain.

Sedangkan Ilyas adalah kakak tertua Farida dan kedua kakak perempuannya itu. Ilyas sudah berumur 7 tahun saat itu. Waktu Elya dan Ina sedang bermain dengan ayahnya, Ilyas masih harus berangkat ke sekolah. Hari Sabtu, untuk sekolah dasar pemerintah, tidak ada libur. Mereka masih harus masuk karena ada kegiatan Pramuka. Meski begitu, Ilyas masih sempat juga ikut berbagi kebahagiaan dengan ayahnya. Di malam harinya, Ilyas tidur dengan ayahnya satu kasur, setelah sang ayah memberinya dongeng sebelum tidur.

Biasanya, setelah Ilyas tertidur, ayahnya pindah kamar, kembali bersama ibu mereka serta Farida yang masih bayi. Namun kali ini, si ayah malah memeluk Ilyas dan tidur pulas bersama. Sampai akhirnya adzan sholat subuh terdengar, ayah terbangun dan beranjak dari tempat tidur Ilyas. "Ilyas, nanti kalau kamu pulang sekolah, papa sudah berangkat ke Timtim, nggak apa kan?" tanya ayahnya saat Ilyas akan berangkat sekolah.

 

"Papa pergi jam berapa memang?"

"InsyaAllah sekitar jam 14 atau menjelang jam 15."

"Oh gitu. Kayaknya Ilyas jam 12 juga sudah di rumah Pa.."

"Oke sayang."

 

Berangkatlah Ilyas ke sekolah, yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari rumahnya, di kawasan perumahan Angkatan Laut, Tanjung Uban, Kepulauan Riau. Kegiatan Pramuka Ilyas di sekolahnya hari itu ternyata cukup melelahkan. Hari itu adalah kegiatan gerak jalan untuk memeriahkan kegiatan AMD atau ABRI Masuk Desa. Sebuah kegiatan yang sangat populer di kawasan kecil wilayah Indonesia saat itu. Siapa generasi kelahiran 1970-1980 tak kenal program AMD yang bisa dibilang sebagai program legend Orde Baru itu?

Kata orang, selain sebagai upaya memasyarakatkan kedisplinan dan cinta lingkungan, AMD juga sekaligus pengejawantahan pengamanan dan pertahanan di kawasan-kawasan pelosok desa. Bayangkan, siapa begundal dan preman yang berani macam-macam, nongkrong, memalak, menggoda perempuan-perempuan desa, ketika sedang ada AMD. Sejak prapelaksaan AMD, lingkungan akan disapu bersih oleh informan-informan dari kemunculan preman di jalanan. Namun AMD juga memunculkan sisi tersendiri. Banyak prajurit laki-laki yang akhirnya 'jadian' dan mendapat jodoh di desa-desa tempat AMD dilaksanakan.

Kegiatan itu sebagai ajang mencari perhatian kedua belah pihak. Dari sisi perempuan, banyak gadis desa yang menjadi sukarelawan penyedia kue dan makanan ringan bagi para prajurit yang beristirahat, setelah setengah harian memacul dan membersihkan alang-alang dan sampah yang ada di sekitar lingkungan. Dari sisi laki-lakinya, kesempatan itu jadi ajang menggombal dan akhirnya berujung kencan.

Kembali ke aktivitas Ilyas, karena AMD tersebut, Pramuka di sekolahnya akhirnya ikut berpartisipasi memeriahkan kegiatan itu. Siswa dan siswi sekolah, melalui kegiatan Pramuka, sekalian membantu para prajurit TNI membersihkan lingkungan. Karena itulah, dari yang seharusnya Ilyas pulang sekolah pukul 11.30 jadi pukul 12.30. Dan karena kegiatan itu, Ilyas pun merasa cukup lelah dan lapar sesampai di rumah.

Dia, bersama kedua orang tuanya serta adik-adiknya pun makan siang bersama. Ayah Ilyas adalah seorang Letnan Satu TNI Angkatan Laut atau perwira pertama (pama) yang menjabat sebagai asisten perwira menengah di kedinasannya. Saat masuk tentara, ayahnya memulai karir dari bintara. Karena keuletan dan kerja kerasnya selama belasan tahun, akhirnya ayahnya berhasil mendapatkan kesempatan hingga menjadi perwira. Dan hari itu, dia harus bertugas ke Timor Timur sebagai bagian dari personel kamar mesin kapal perang. Rencananya, ayahnya akan bertugas di laut selama 4 bulan, hingga 31 Desember 1978.

Setelah makan bersama, Ilyas dan adik-adiknya diajak bersama-sama menonton televisi di ruang tengah oleh ayahnya. Sementara ibunya kembali ke kamar untuk menyusui Farida. Mereka tinggal di rumah petak khusus perwira. Hanya ada dua kamar di rumah itu, dengan ruang dapur dan satu kamar mandi. Meski rumah dinas itu terlihat kecil, namun mereka bahagia tinggal di sana, karena ayah dan ibu mereka selalu mengajarkan untuk berbesar hati menghadapi apapun.

Saat sedang menonton, tiba-tiba rasa sakit di dada kiri yang tadi datang, muncul kembali dirasakan ayahnya, namun dengan level yang tidak terlalu menyakitkan. Detak jantung pun sempat berdebar lagi, namun hanya sekejap, tak lebih dari 30 detik. Dia pun kembali mengatur nafasnya, menghirup dan melepaskannya secara teratur hingga dirasakan kembali stabil. "Ah, kenapa akhir-akhir ini jadi sering muncul yang seperti ini?" tanya sang ayah dalam hati.

Sebenarnya sudah sekitar 4 tahun ke belakang gejala itu muncul, tapi karena sifatnya timbul tenggelam, maka dia memutuskan untuk menghiraukannya saja. Jika hal seperti itu datang, hanya istirahat yang menurutnya dibutuhkan. Dia pun tak menceritakan perihal timbulnya gejala tersebut kepada istrinya, ibu dari Farida, Ilyas, dan anak-anaknya. "Situasi kesehatan masih terkendali," ungkapnya. Padahal tanpa disadari, ayahnya justru sedang menyimpan malapetaka di dalam tubuhnya.

Rasa lelah dan lapar memang telah hilang dari tubuh Ilyas. Namun seiring dengan hilangnya rasa itu, muncul rasa kantuk. Ilyas pun tertidur di depan televisi, terkapar di karpet. Melihat putranya tertidur pulas karena kelelahan, akhirnya dia ambil bantal dan diselipkan ke kepala. Tujuannya agar kepala Ilyas tidak bersandar langsung ke karpet yang lebih keras dari bantal. Sedangkan Elya dan Ina kembali mengajak ayahnya bermain-main lagi. "Iya, iya sayang oke. Ayo kita main lagi ya," ungkap ayahnya. "Duh.. Dasar anak-anak, tidak ada lelahnya," tandasnya.

Sore pun menjelang dan waktu berangkat pun tiba. "Papaa.. Papa.. Jangan pergi dong," tukas Elya sambil menangis terisak. Begitu pun adiknya yang ikut-ikutan menangis. Untung saja Farida bayi saat itu sedang terlelap sehingga ibu mereka masih bisa menangani kesedihan kakak-kakak Farida itu. "Sudah, sudah. Kan nanti Papa pulang lagi," kata ibunya, sambil membelai rambut Elya dan menggendong Ina. Dengan berat hati, sang ayah berangkat bersama mobil dinas yang menjemputnya, setelah mencium kepala kedua anaknya itu dan kening istrinya. "Hati-hati Mas Gofur..," ungkap sang istri.

Sedangkan Ilyas, sengaja tidak dibangunkan olehnya supaya tidak terjadi seperti yang dilakukan Elya dan Ina. Terlebih Ilyas sedang kelelahan, kuatirnya malah jadi sakit nantinya. Akhirnya mobil dinas pun membawanya pergi. Ayahnya melihat lambaian anak-anak dan istrinya dengan rasa yang menyayat di hati. Rasa berat hati dan berat langkah yang dialaminya lebih besar dari tugas-tugas dinas luarnya yang terdahulu. "Mungkin karena mereka semua sudah besar-besar dan lagi lucu-lucunya, makanya jadi berat rasanya," pungkasnya dalam hati.

Sang ayah berangkat ke Dili, dari Bandara Kijang, Tanjung Pinang, dengan penerbangan non direct. Karena pesawat jenis Hercules yang ditumpanginya harus berhenti dulu di Jakarta selama sepekan. Keumdian di Jakarta, kepala tim harus melapor kesiapan keberangkatan dan bergabung dengan tim besar Seroja di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma. Karena sifat pemberangkatannya adalah estafet atau bergantian.

Secara resmi, keberangkatan harus melalui izin Panglima ABRI yang juga Menteri Pertahanan dan Keamanan. Bila telah diizinkan, tim bisa berangkat menuju Armada Timur, Surabaya. Di sana, perjalanan dilanjutkan lewat laut, dengan KRI yang ditugaskan menuju Timor Timur. Setelah sebelas hari pasca keberangkatan dari Tanjung Uban, barulah tim Tanjung Uban mendapat izin untuk bergabung bersama tim besar Seroja menuju Timor Timur.

 

"Letnan Gofur! Anda bertugas di KRI Teluk Bone bersama Kepala Kamar Mesin Kapten Nuryaman dari pangkalan VII,"

"Siap Kolonel!" ungkap Gofur.

"Dan Kapten Marsudi, ini Letnan Gofur yang akan memetakan naval engineering kapal ini. Kamu tinggal atur koordinasi supaya misi efektif dan efisien!"

"Siap laksanakan!" ujar Kapten Marsudi.

 

Akhirnya kapal KRI Teluk Bone yang membawa mereka, berangkat dengan rute selatan. Sang Kapten dalam perjalanan itu memimpin kru ABK dan asistennya dalam tiga tahapan utama harian. Pertama, memastikan saluran komunikasi radar tetap menangkap signal satelit, kedua menjadwalkan laporan mekanisasi komponen mesin pagi dan petang, serta memeriksa posisi bahan bakar. Selain ketiga itu, juga beberapa proses yang harus dipastikan berjalan.

Karena tugas KRI Teluk Bone adalah memasok persenjataan untuk KRI Hiu, kapal tempur berkuran lebih kecil, serta membawa prajurit-prajurit yang dibebastugaskan untuk kembali ke pangkalan utama. KRI Teluk Bone merupakan kapal berkapasitas besar untuk mengangkut persediaan kebutuhan tempur.

Kapten Marsudi akan memerintahkan Lettu Gofur, ayah Ilyas, dan kakak-kakak Farida, untuk berkoordinasi teknis dengan Kapten Nuryaman, sebagai Kepala Kamar Mesin KRI Hiu, untuk mekanisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) KRI Hiu. Itulah misi utama mereka, yakni memasok alutsista baru untuk KRI Hiu.

Setelah alutsista ditransfer dengan baik, KRI Teluk Bone tidak serta merta bisa pulang kembali ke Armada Timur di Surabaya. Mereka harus standby di laut untuk keperluan pendukung KRI lainnya yang bertugas di kawasan pelabuhan Timor Timur, termasuk penerimaan prajurit lapangan yang dipulangkan dari medan tempur. Karena itulah tugas Gofur dan timnya akan berjalan hingga sekitar 4 bulan. Saat sedang mengontrol komunikasi satelit bagian dek tengah, terdengar suara memanggil dari alat intercom, "Break! Break! Lapor! As-KKM bisa di copy? Ganti."

Panggilan itu pun terulang lagi kedua kalinya, dan dijawab oleh Lettu Gofur sebagai Asisten KKM. "Ya, di copy. Mohon izin menunggu perintah, begitu, ganti!" balas Gofur dengan bahasa khas komunikasi radio kala itu

 

"Ya, Letnan Gofur ini Kapten Nuryaman di Hiu, ganti!"

"Siap Kapten."

"Posisi kami siap untuk menerima pasokan amunisi senjata patroli, ganti!"

"Siap. Aman Kapten, ganti!"

"Baik kalau begitu, transfer pada posisi 1,5 lintang utara, pukul seratus ganti!"

"Aman Kapten!"

"Terima kasih! Laporan selesai!"

 

Gofur pun melaporkan penjadwalan transfer alutsista ke komandannya Kapten Marsudi, sebagai tindak lanjut teknis misi utama mereka. Amunisi senjata patroli hanyalah salah satu dari beberapa unsur misi yang akan dilakukan. Karena untuk misi utama ini, unsur-unsurnya antara lain transfer amunisi senjata patroli, peluru kendali, perlengkapan personel, hingga komponen suku cadang untuk kapal-kapal lainnya yang bertugas. Namun saat baru melaporkan penjadwalan tersebut, mendadak rasa sakit di dada kiri Gofur muncul.

Kali ini rasa sakit itu sampai membuatnya pingsan dan roboh di lantai dek kapal. Dengan sigap para ABK mengusung tubuh Gofur ke ruang medis dan secara sistematik, komandan KRI Teluk Bone melaporkan ke Armada Timur. Serangan jantung yang diderita Gofur ternyata sangat parah, sehingga akhirnya dua jam dari serangan itu, Gofur dinyatakan meninggal. Begitulah akhir hayat ayah Farida dan kakak-kakaknya, yang diam-diam menyimpan sakit parah di tubuhnya.

Kabar duka tetaplah sebuah pesan yang harus disampaikan ke keluarga kecil Lettu Gofur di Tanjung Uban. Dengan penuh kesedihan mendalam menerima kenyataan itu, Ilyas adalah satu-satunya anggota keluarga yang merasa sangat terpukul. Berkali-kali Ilyas berkata sambil terisak menangis kepada ibunya, "Ibu.. Aku berarti hanya sempat melihat Papa di pagi itu. Aku tidak bisa lagi melihat Papa ya Ibu? Tidak bisa main-main seperti waktu Papa bersama Elya dan Ida. Ibu.. Aku masih kangen Papa-ku, Ibu.."

Sang Ibunda hanya bisa memeluk anaknya dengan erat sambil menitikkan air mata pilu yang tak tertahankan. Sejak hari itu, Ilyas berjanji untuk tidak akan mau menjadi seorang tentara seperti ayahnya. Dia tak mau pergi ditugaskan, kemudian tak kembali lagi untuk keluarganya. Bahkan hingga Ilyas duduk di bangku SMA, dia berulang kali mengungkapkan ketidakrelaannya berpisah dengan sang ayah kepada adik-adiknya, Elya, Ina, serta Farida, yang beranjak 10 tahun dan mulai memahami perasaan abangnya. "Aku hanya sampai pagi itu melihat Papa. Hanya sampai pagi itu.." ungkap Ilyas.

Kalimat pilu itu pun selalu terngiang di ingatan Farida dan kakaknya yang lain. Hingga suatu ketika, kalimat itu seperti memukul keras benaknya sehingga membuatnya tersentak. Ternyata Farida yang tengah tertidur kelelahan sehabis bekerja, sempat bermimpi seperti melihat abangnya Ilyas mengenakan baju SMA, mengucapkan kata-kata itu berkali-kali di hadapannya. "Ya Allah mimpi itu datang lagi. Semoga kau sehat-sehat saja abangku," ungkap Farida yang baru terbangun dari tidur sekejapnya. Dia pun memutuskan untuk menelfon abangnya itu, setelah mendapat mimpi tersebut.

 

"Halo, Abang."

"Oh, halo Ida. Apa kabar, Dik? Gimana? Lagi dimana nih kamu?"

"Aceh, Bang."

"Hah? Tugas kantor? Di sana masih perang loh, kamu dimananya? Kamu kok mau-mau saja ditugaskan di Aceh sih Dik?"

"Tenang saja Abang. Ida, kan kerja untuk LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan, Bang Ilyas. Ya tugasnya menolong manusia lain yang kesusahanlah. Dan di sini aku menolong korban tsunami."

"Iya Dik. Tapi ingat, itu adalah daerah perang. Dan kamu tahu bahwa abangmu ini punya trauma dengan yang namanya penugasan peperangan."

"Iya Bang. Pokoknya jangan kuatir, Ida akan terus mengabari Abang, terus update ke Abang."

"Oke ya. Pokoknya setiap hari kamu harus kabari Abang, entah lewat SMS, atau miss called supaya Abang bisa telfon balik, apapun itu yang penting aku tahu kamu baik-baik saja di sana."

"Baik Bang.."


Acheh Darussalam 

Di lain tempat, tepat 1 Oktober 2004 Yazid resmi mengundurkan diri dari pekerjaanku, wartawan foto di sebuah surat kabar, milik perusahaan jaringan besar pemberitaan nasional saat itu. Yazid kembali dari Kota Pahlawan ke rumahnya di Tanjung Pinang, Kepulaun Riau. Sebulan kemudian Yazid diterima kerja di Photonia, sebuah studio foto milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa di daerah Batu 2, Tanjung Pinang, sebagai fotografer studio. Pengusaha yang baik, karena baru dua bulan bekerja, Yazid sudah kebagian bonus akhir tahun.

Namun bukan soal Yazid mendapat pekerjaan. Cerita ini akan sedikti dimajukan lagi waktunya, yakni dari Oktober 2004 ke 26 Desember 2004. Sepulang dari studio foto, Yazid melihat orang-orang di rumahnya menatap televisi dengan wajah terpana dan berulang-ulang berdecak kagum. Tapi wajah kagum itu tak disertai senyuman, melainkan ekspresi kegetiran atas berita duka. Dan ternyata, baru saja terjadi tsunami di pagi hari itu.

Entah apa energi apa yang merasuki tubuh Yazid, tiba-tiba setelah menonton kejadian itu, dia bertekad ingin menggunakan uang bonus akhir tahunnya dari studio foto tempatnya bekerja untuk berangkat ke provinsi Serambi Mekah. Esok harinya, Yazid diam-diam mencari informasi tiket di Bandara Kijang atau yang saat ini namanya menjadi Raja Haji Fisabilillah International Airport. Dia berupaya mencari tiket pesawat ke Polonia, Medan, yang termurah, yang bisa dia beli. Rencana pun terwujud. Yazid berhasil akhirnya mendapatkan tiket yang seharga dia mau, walau telah masuk pekan kedua pasca kejadian tsunami. 

Setelah mendapat tiket murah tersebut, Yazid pun berniat meminta izin kepada ibunya. Dia pun menyadari bila keberangkatan ke Aceh tersebut dengan alasan untuk misi kemanusiaan sukarela, ibunya takkan memberi izin. Akhirnya dia buat alasan sendiri, yakni sebagai perjalanan tugas dari kantornya ke Aceh. Padahal kantornya tak pernah menugaskan dia memotret sejauh Aceh. Paling jauh ke Tanjung Uban, untuk memotret pernikahan. Setelah berupaya meyakinkan ibunya, Yazid pun memeroleh izin.

Singkat cerita Yazid pergi ke Medan dengan pesawat terbang siang, kemudian dia berniat melanjutkan ke Aceh lewat darat, untuk mengirit ongkos perjalanan. Dengan berbekal beberapa potong pakaian untuk sepekan, kamera SLR butut, beberapa rol film. Semua dia masukkan ke dalam satu tas ransel 60 liter. Sementara di dalam dompet, ada ATM berisi semua tabungan. Di celananya, ada uang disaku yang diambil dari celengannya. Berangkatlah dia menuju Taneuh Rencong.

Tiket pesawat berlambang singa merah Jakarta-Medan sudah dibelinya. Sampai di Medan ternyata Yazid lelah. Dia pun berniat tidur di masjid bandara sejenak, sebelum melanjutkan ke Terminal Amplas, Medan. Yazid akan melanjutkan perjalanan via darat, yakni naik bis malam ke Banda Aceh.

Saat itu dia merasa yakin bahwa Aceh sedang aman dalam beberapa bulan ke depan. Pertimbangannya, karena selain dalam masa berkabung massal, disana toh sedang banyak sekali petugas medis dan relawan. Jadi menurutnya, aman dari aksi konflik TNI-GAM, yang kemungkinan akan menghambatnya ke Aceh. Rasa optimis itu akhirnya membawa Yazid terlelap di nyamannya hembusan kipas angin masjid Bandara Polonia.

Sekitar 30 menit, Yazid tertidur di dalam masjid. Dia terbangun lantaran suara adzan sholat ashar berkumandang di masjid. Saat itu juga Yazid langsung melangkahkan kakinya ke tempat berwudhu, dengan langkah yang sedikit gontai karena rasa kantuk masih menggelayut di mata dan tubuhnya. Usai melakukan shalat ashar berjamaah dia melanjutkan perjalanan ke Terminal Amplas.

Di loket terminal Yazid sedikit terheran dengan adanya penjagaan ketat dari pihak kepolisian dan tentara. Para aparat itu selain tampak sedang berjaga, juga seperti melakukan pendataan calon penumpang yang akan menuju Banda Aceh. Rupanya para petugas tersebut memang ditugaskan melakukan sortir orang-orang yang datang ke Aceh, karena merebak isu "Wisata Tsunami" saat itu. Dimana area bencana didatangi para pelancong yang hanya ingin mengambil spot foto monumental. “Brengsek memang kalian,” cacinya dalam hati.

Yazid pun menahan langkahnya menuju area loket tersebut. Dia terpaksa balik badan sambil mencari cara agar bagaiman bisa masuk Banda Aceh. Niat ikut mencari spot foto di area bencana memang termasuk salah satu tujuannya. Namun itu bukan tujuan utamanya. Fokus Yazid tetap pada rencana menjadi relawan untuk menolong korban dan membenahi kondisi daerah terdampak bencana.

Karena kebingungan, akhirnya dia memutuskan singgah ke salah satu warung makan di area terminal dan memesan segelas teh hangat. Sambil minum, dia pun mulai memantau situasi. Setelah warung makan mulai sepi pembeli, barulah dia menanyakan ke salah seorang penjual di warung. Ada tiga orang yang melayani warung itu. Dua orang perempuan yang melayani di depan dan satu orang laki-laki yang bertugas di belakang, sepertinya dia dia bagian yang membersihkan warung.

 

"Kak, aku mau tanya," ucap Yazid kepada pelayan warung perempuan.

"Apa rupanya Bang?"

"Ada yang bisa bantu saya pergi ke Banda Aceh?"

"Hah?"

"Iya. Atau boleh aku bicara sama teman kakak itu? Abang yang di dalam?"

"Nah, cobalah."

 

Yazid pun beranjak, menuju ke ruang warung yang di bagian dalam. Dia pun menyapa lelaki muda yang sedang mencuci piring itu. Beruntung lelaki itu lebih ramah ketimbang petugas perempuan yang melayani di depan.

 

"Ada apa Bang?"

"Begini, barangkali Abang punya kenalan di sini yang bisa melancarkan perjalanan saya ke Aceh? Sopir bus atau kenek begitu Bang?"

"Oh gitu ya. Kenapa rupanya? Abang tak boleh masuk oleh petugas ya?"

"Sebetulnya saya belum sampai menghadapi petugas. Itulah makanya saya mencoba cari cara dulu Bang."

 

Yazid pun akhirnya menceritakan maksud dan tujuannya kepada pencuci piring itu, dari sejak niat keberangkatannya dari rumah hingga berhasil touch down di Medan. Si pencuci piring itu sempat tertawa kecil dan berkali-kali menggelengkan kepala.

 

"Bisa aja kubantu, tapi aku pun tak janji berhasil ya?"

"Ya, tak apa pula Bang. Tapi kalau bisa berhasil, okelah sudah."

 

Yazid pun diminta kembali menunggu sejenak di kursi makan di depan warung. Tak lama kemudian pencuci piring itu keluar dari dalam dan mengajak Yazid bertemu dengan kenalannya. Tukang cuci piring itu mengenalkan Yazid kepada salah seorang kenek bis eksekutif Medan-Banda Aceh. Bersama Yazid, tukang cuci piring itu menyampaikan maksud ke kenek itu.

Setelah kenek memahami, tukang cuci piring itu meminta izin untuk kembali ke warung, melanjutkan pekerjaannya. Saat pergi, Yazid memberinya selembar uang kertas sebagai ucapan terima kasih. Sementara setelah berhadapan dengan kenek bis, Yazid diminta menunggu lagi di salah satu kedai kopi di terminal, tempat kenek dan bis biasa istirahat dan makan. Kenek pun tak lama datang bersama seseorang bertubuh tinggi besar dan gempal.

Mereka bertiga pun berdiskusi cukup alot. Yazid menawarkan tambahan uang ongkos, namun dia juga tak bisa memberi dengan jumlah besar lantaran alokasi keuangannya yang juga terbatas. Setelah bernegosiasi cukup panjang, angka rupiah pun disepakati, akhirnya Yazid disamarkan menjadi helper angkut barang. Yazid juga dipinjamkan seragam perusahaan otobis (PO) supaya bisa lolos masuk terminal. Saat di bus, Yazid duduk persis di belakang sopir. Berangkatlah Yazid ke Banda Aceh dengan tanpa hambatan petang itu. Yazid yakin perjalanan akan menyenangkan.

Namun perkiraan Yazid sedikit salah. Sekitar pukul 22.30 WIB, dia terbangun karena bus tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian masuklah empat orang berwajah datar dengan tatapan mata tajam, mereka menenteng senjata mesin berlaras pendek. Mungkin senjata mereka jenis M-16 atau sekelasnya. Dari keempat orang itu, tampak ada yang masih berusia muda dan ada pula yang sudah tua lantaran kelihatan beruban.

Yazid jadi agak deg-degan karena para penumpang bus panik dan terdengar dengan sayup suara mereka berucap macam-macam, dari komat kamit mulut mereka. Ada yang bershalawat, ada yang istighfar, dan sebagainya. Mereka tahu bahwa yang masuk itu adalah anggota GAM.

"Tenang bapak-bapak, ibu-ibu, kita ini bukan orang jahat, yang penting jangan ada yang SMS atau telpon polisi ya. Kutembak kepala kalian disini kalau berani kalian begitu ya.." ucapan itu keluar dengan nada tenang namun serasa seperti ledakan petir di siang bolong.

Dia pun merogoh ke dalam tas ransel yang berisi seluruh bawaan dari rumahnya, yang dia letakkan di bawah kakinya itu. Tepat di kantung depan tas ransel tersebut, dia buka dan tangannya seperti sudah sangat tebiasa menemukan apa yang dia cari. Jari jemari Yazid seperti sudah mengenal suasana dalam kantung depan tas ranselnya itu. Setelah menemukan apa yang dia cari, kemudian dia keluarkan perlahan. Rupanya adalah kitab Al Qur'an seukuran telapak tangan orang dewasa. Dia pun membaca Al Qur'an itu untuk menenangkan diri.

Dari empat orang itu, dua dari mereka menuju ke arah tempat Yazid duduk. Entah apa yang akan mereka minta. Kebetulan posisi duduk Yazid di kursi bis paling depan, di belakang Pak Sopir. Satu dari dua orang yang mendekatinya, memintanya pindah. Awalnya, jantung Yazid terasa meledak-ledak saat mereka mendekati. Karena selain wajahnya garang tanpa tersimpul senyum sedikit pun, juga karena senjata berat yang ditentengnya. Kaki Yazid seperti lemah lunglai. Dia sempat berpikir, “Jangan-jangan mereka menginginkan sandera, dan salah-salah nyawaku bisa melayang. Tapi ketegangan mereda karena ternyata mereka cuma 'mengusir' saja. Sedangkan anggota GAM yang satu lagi, meminta penumpang yang duduk di sebelah Yazid, untuk pindah juga. Jadi kursi tempat Yazid duduk bersama orang di sebelahnya, mereka ambil alih.

Dan yang lebih bikin Yazid sangat deg-degan saat mereka masuk ke dalam bis adalah, beberapa dari mereka jarinya berada di area pelatuk. Bisa dibayangkan bila mereka tiba-tiba menarik pelatuk?

Ya tentu konyol bila mereka berbuat itu tanpa alasan. Tapi bagaimana bila bus menghantam jalanan rusak dan mengguncang lengan mereka? Lalu tanpa sengaja pelatuk senjata itu tertekan jari mereka? Sementara laras senjata mengarah ke sembarang penumpang? Dar dor dor! Beberapa penumpang bisa tewas lantaran tertembak oleh senjata yang tertarik pelatuknya secara tak sengaja, akibat bus menghantam jalan rusak. Dan bisa saja penumpang itu adalah... Ah, Yazid pun malas membayangkannya.

Singkat cerita lagi, Yazid dan orang di sebelahnya diminta pindah duduk ke tempat lain, yang bisa diduduki. Entah pindah ke belakang atau mana saja. Atau, kalau keduanya tidak mau pindah duduk, mereka menyuruh keduanya turun saja. Awalnya Yazid berpikir untuk turun saja. Namun bisa jadi di luar sana dia malah menjadi 'santapan' malam kawasan perbatasan. Akhirnya, Yazid pindah duduk di tangga dekat pintu keluar bagian depan. Sedangkan orang di sebelahnya, yang juga 'diusir' para GAM, pindah ke bagian belakang.

Dua pria bersenjata yang mengusir mereka tadi, akhirnya duduk di bangku yang diduduki Yazid bersama penumpang sebelahnya. Jadi mereka duduk di belakang sopir. Mereka pun tampak seperti memerintahkan sopir untuk melakukan ini-itu, dengan menggunakan bahasa Aceh. Ada empat anggota GAM yang menaiki bus tersebut. Selain dua orang yang telah meminta Yazid hengkang dari tempatnya duduk, ada dua lainnya. Mereka pun sama, meminta 'setengah baik-baik' para penumpang lelaki lainnya di bus itu, untuk pindah tempat duduk.

Rupanya, keempat anggota GAM itu hanya ingin menumpang bus hingga ke Langsa. Kejadian yang sebenarnya tenang namun tegang itu, hanya berlangsung tak lebih dari 1 jam. Mereka akhirnya turun di tengah kegelapan. Mungkin karena bus sudah sudah masuk area Langsa. Selain gelap, Yazid juga sama sekali tak kenal daerah disana. Fyuhh.. Akhirnya aku bisa kembali menduduki kursiku,” ungkap Yazid dengan rasa tenang.

Setelah duduk, orang di sebelah tempat duduknya yang tadi sama-sama kena 'usir' mencoba menenangkan Yazid. Dia mengatakan bahwa sebaiknya Yazid tak perlu terlalu khawatir. "Orang-orang Aceh itu baik. Mereka tak akan jahat bila kita tak jahat. Saya sudah sering mengalami seperti itu," ujarnya. "Lagi pula kau bukan orang Jawa bukan?"

Dahi Yazid mengerenyit mendengarkan pertanyaan orang yang duduk di sebelahnya itu. Aku bertanya balik kepadanya, "Saya orang Padang, tapi saya juga orang Sunda, karena ayah saya Sunda asli. Ya, tentunya saya jelas bukan Jawa. Tapi kalau pun saya Jawa kenapa rupanya Pak?"

Menurut orang di sebelahnya itu, pernah dia mengalami kejadian serupa. Yakni bus yang ditumpanginya dicegat oleh para anggota GAM. Agak persis seperti itu kejadiannya. Saat itu, mereka ingin meminta sumbangan paksa para penumpang bus eksekutif. Dan setidaknya, sekitar Rp 20 ribu hingga - 50 ribu terpaksa harus dikeluarkan, atau urusan bisa panjang. Bahkan bisa jadi urusan nyawa! "Nah, saat itu ada orang yang memberi uang sambil berkata dengan logat Jawa kental. Saat GAM turun, orang Jawa itu akhirnya dibawa serta. Kau belum tahu ya? GAM sangat membenci orang Jawa. Untung kau Minang berdarah Sunda, orang Aceh sangat suka orang Sunda kawan," ungkap si bapak itu.

 

“Kenapa dengan orang Sunda Pak?”

“Orang Sunda, menurut orang Aceh, banyak yang ber-Islam dengan cara yang sama dengan orang Aceh. Sedangkan orang Jawa, menurut orang Aceh, ber-Islam dengan cara tradisi Jawa.”

“Oh duhai.. Begitu ya anggapan mereka? Padahal sesama Islam adalah saudara, tak ada beda. Yang penting sama-sama menjaga shalat dan shawalat.”

“Ya begitulah. Rumit juga bila diperbincangkan.”

"Lalu diapakan si Jawa itu?"

"Entahlah, mungkin dikerjai. Atau mungkin pula...."

 

Sambil mengangkat bahu dengan mimik wajah seperti orang bertanya-tanya, tampaknya bapak itu ingin menjelaskan ke Yazid, bila orang Jawa itu kemungkinan disandera, bahkan dibunuh.


Novel ini masih dalam penggarapan. Namun bila tertarik ingin memesan, boleh klik gambar di bawah ini.





Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Berita
English
Snow
Storytelling
Tokoh
Bahari