Berbuat Hal Bodoh Padahal Pintar

Dari judulnya jelas, bahwa tindakan bodoh ternyata tidak hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar kekurangan ilmu pengetahuan. Namun juga oleh orang yang sudah berpendidikan tinggi, bahkan sampai di level profesor pun ada yang bertindak bodoh. Di Kent State, Amerika Serikat, ada seorang profesor bernama Linden Adkins bahkan melakukan tindakan bodoh, yakni berantem di jalan. Hal tersebut dia lakukan karena tak mampu menahan kesal, akibat saat sedang mengemudi, dia berada di belakang pengemudi yang sedang menulis pesan di handphone.

Alhasil, dia menyalip kendaraan tersebut sambil memaki. Gayung bersambut, si pengemudi yang dimaki pun tersulut emosi dan akhirnya mereka berkelahi di jalan. Tindakan memalukan serupa pun terjadi di Indonesia, melalui kisah yang sempat terkenal oleh seorang YouTuber dengan nama akun Ichiro. Belakangan ternyata si Ichiro ini adalah dosen salah satu PTN terkemuka di Jakarta. 

Lalu kenapa mereka bisa lepas kendali? Padahal mereka adalah orang berpendidikan tinggi, yang seharusnya bisa mengendalikan diri. Kalau kata orang awam, "Elu orang pinter tapi kenapa kelakuan kayak orang stres? Padahal seharusnya dengan kepintaran lu, hidup bisa lebih mudah dijalanin.."

Betul sekali. Kenapa kita harus bertindak bodoh kalau kita tahu bahwa kita ini memiliki kecerdasan tinggi? Jawabannya adalah karena kepintaran dan kecerdasan seseorang akan tenggelam ketika hawa nafsu atau emosi sudah menguasai. Kalau menurut Erbe Sentanu sang founder Quantum Ikhlas orang yang emosional terbiasa menggunakan kekerasan, tak bisa menggunakan logika sehat, ketika diukur gelombang otaknya, akan berada di frekuensi atas.


Angry mermaid


Orang seperti itu, ketika dikritik, akan langsung terbakar emosi. Lalu mengapa ada orang yang berpendidikan tinggi, tinggi literasi, tapi gelombang otaknya masih sering berada di frekuensi tinggi? Tentunya lantaran mereka hanya terbiasa berkompetisi dengan orang lain tapi lupa mempelajari kompetisi dengan diri sendiri. Mereka lupa menurunkan ego dan meraih ketenangan, hingga akhirnya bisa terbiasa dengan ikhlas. Maka selama mereka belum mengenal diri mereka sendiri, selama itu pula mereka masih berada di gelombang otak tertinggi.

Bila begitu, tidakan mereka akan selalu merugikan diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya kecerdasan emosional juga perlu ditingkatkan, selain kecerdasan intelektual. Karena dengan kecerdasan emosional yang tinggi, dia akan lebih mudah mengendalikan dirinya sendiri dan tentunya, menjadi panutan orang lain. Dapat kita lihat sendiri bahwa pemimpin yang menjadi panutan adalah mereka yang mampu menahan diri setelah dikritik keras oleh rakyatnya. Karena selain tindakannya bisa terukur, dia akan tetap melahirkan kebijakan yang nyaman bagi rakyatnya.

Post a Comment

0 Comments