Main Ad

Sikap Tegas Jobseekers

Ajang Presidensi G20 di Indonesia telah usai dan sudah mulai berjalan pada tongkat estafet selanjutnya, yaitu India. Seperti biasa, sebagai jurnalis, yang dituju pertama kali di laman G20 adalah ke portal akreditasi media. Di sana kemudian diperlihatkan beberapa syarat yang harus dilengkapi oleh para jurnalis, calon peliput G20 India. Ada satu syarat yang diajukan India dan syarat itu tidak ada di Indonesia, ketika proses akreditasi media dilaksanakan. 

Apakah itu? Yakni syarat adanya contoh hasil liputan jurnalis yang bersangkutan. Panitia G20 India meminta persyaratan tersebut, kemungkinan untuk melihat kompetensi jurnalis yang nantinya akan meliput ajang G20 hingga di puncak acaranya (G20 Leader's Summit). Tampak bahwa India dalam hal akreditasi media peliput G20 langsung menilai ke profil individunya. Sedangkan Indonesia melihatnya dari profil media massa: bagaimanakah tone-nya, apakah update beritanya tersendat, bagaimana traffic atau oplah, dan sebagainya.


Photo by Jürg Stuker

Begitulah cara-cara sebuah organisasi menjaring kualitas calon-calon pendukung ajangnya, demi kemajuan bersama. Harus ada manfaat, tentunya, bagi organisasi G20 dan ada pula manfaat bagi para jurnalis yang terpilih. Keduanya dibangun dengan konsep mutual atau nilai kemanfaatan bersama. 

Tapi apakah ada perekrutan sumber daya yang hanya sepihak dari sebuah organisasi atau perusahaan? Ada. Angrybow akan mencontohkan dari sisi perekrutan calon pegawai. Perlu diketahui dulu, bahwa perusahaan yang merekrut dan orang yang direkrut dirahasiakan, supaya menjaga hal-hal yang perlu dijaga satu sama lain.

Bagi para jobseekers di luar sana, kebanyakan mungkin menghadapi kasus seperti ini dan biasanya “pasrah” saja. Tapi wajib dipahami bahwa rekrutmen semu seperti itu, harus berani disikapi. Mari lihat gambar tulisan di bawah ini.


Pemilik tulisan email ini dirahasiakan

Pemilik tulisan itu hanya ingin memberi pesan edukasi sesama jobseekers bahwa, "Kita itu harus bisa BERSIKAP!" Dilematis memang antara sedang memerlukan pekerjaan atau sedang dikerjain. Ironis sekali.

Perusahaan mensyaratkan calon pekerja membuat study case bahkan hingga minta dibuatkan sales forecast, A&P budget, hingga analisa BEP-profit. Padahal hasilnya belum tentu direkrut. Malah pemilik tulisan tersebut setelah banyak melakukan sharing dengan sesama expert, hasil akhirnya adalah "Terima kasih". Bahkan ada yang lebih parah, dimana email dan nomor kontak mereka hilang tak berjejak.

Hal seperti itu menurut pemilik tulisan, bukan sekali dua kali dia temui, tapi sudah puluhan kali. Dan menurutnya rata-rata oknum tersebut adalah mereka yang tidak mampu membayar expert.

Maka semua fenomena itu akan dikembalikan kepada para jobseeker, bahwa pahamilah nilai dan harga keahlian diri sendiri. Berani bersikap, bukan berarti jual mahal. Tapi itu artinya para jobseeker tahu cara menghargai diri sendiri. Jika sudah tahu cara menghargai diri sendiri, maka nantinya perusahaan pun bisa mengukur kelayakan harga, atas jobseeker yang berkualitas.

Post a Comment

0 Comments