Main Ad

Makin Banyak Generasi Sehat? Ah Tak Juga..

Mungkin menurutku, bapak ini usianya sekitar 45-47 tahun. Karena rambutnya belum banyak uban dan wajahnya masih sedikit punya kerut. Cenderung kencang kulit pipinya. Dan menurutku lagi, dia orang Sunda atau Betawi kawasan timur dan sekitarnyalah. Karena tampang miripnya, banyak kujumpa di sekitar kawasan itu. 

Rupanya semua perkiraanku salah. Dia biasa dipanggil Bang Olan, karena nama sebenarnya dia Oloan Sitanggang. Sebenarnya panjang nama orang ini, tapi dia buat jadi singkat saja: nama depan Oloan dan nama belakang Sitanggang. Ya, Batak rupanya si abang ini dan usianya, ternyata sudah akan 55 tahun di tahun ini. 

Alamak, awet muda juga si bapak atau si abang inilah. Tampilanku saja -yang saat tulisan ini kalian baca, sudah 44 tahun. Tapi tampaknya, kalau dibanding-banding dengan dia, harus diakui sedikit lebih muda si Bang Olan. Kutanya padanya dengan nada penasaran. 


"Apa rahasianya Bang? Eh abang dan saya beda 11 tahun tapi kok tampilannya tak beda jauh dengan awak ya Bang" 

"Ah, haha... Tak ada rahasianya Pak. Jalani saja hidup ini Pak." (Ah, dipanggil Pak pula awak. Bayangkan! Dia panggil aku "Pak" dengan logat Batak yang kentalnya itu).

"Sepertinya bersepeda ya Bang? Sudah umur 55 tapi masih bugar macam begini, pasti karena bersepeda."

"Ah, tak juga Pak. Tak ada hubungan menurut saya dengan sepeda."

"Anggap saja demikian Bang. Aku rasa karena Abang setiap hari bersepeda."


Penjahit keliling, foto milik blog Suparto


Jadi, si Bang Olan ini sebenarnya adalah penjahit keliling. Saya hari ini kebetulan panggil dia, karena dia sedang lewat depan rumah dan saya ingat kalau ada beberapa celana yang bolong di lemari. Jadi baguslah. Dia dapat rejeki dan aku bisa perbaiki celana. 

Kembali soal kebugaran di umurnya yang akan 55 tahun, aku pun bertutur seraya memerhatikan dia menjahit. "Tapi hikmah masa pandemi ini Bang, jadi makin banyak generasi sehat. Banyak sekali kulihat orang bersepeda macam Abang ini. Jadi hidupnya lebih sehat."


Lalu dia yang sedang menjahit, tiba-tiba tertawa. "Ah, manalah bisa begitu. Tak ada Pak hubungan sehat dengan bersepeda menurut saya." 

"Mereka  yang bersepeda aku rasa hanya ingin memperlihatkan sepeda dia yang mahal dan aplikasi HP yang bisa menghitung jarak mereka bersepeda. Misalnya si itu si bapak anu, dia naik sepeda harga Rp 100 juta. Lalu dia pakai aplikasi yang bisa menunjukkan bahwa dia sudah berjalan sejauh sekian puluh kilometer. Nah, tapi siapa yang menikmati keuntungan? Si produsen sepeda dan mereka yang bikin aplikasi, ya kan?"

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecil menanggapi komentar si abang ini. Lalu dia melanjutkan. 

"Sedangkan pesepeda itu, si bapak anu, cuma dapat kepuasan semu. Setelah demam sepeda usai, cari kepuasan lainlah mereka."

Sekarang gantian saya yang tertawa, "Oh begitu ya Bang? Jadi apa tujuan mereka dong? Bukannya supaya sehat?" 

Lalu dia jawab, "Kalau tips dari saya, supaya kelian bisa bugar selalu adalah, puaskan kebutuhan diri. Dan harus berlanjut Pak, harus terus begitu. Karena kalau kebutuhan diri terpuaskan, maka rohani sehat dan jasmani jadi ikut sehat. Begitu toh?" 

Kutanyakanlah lagi ke dia, tentang maksud kepuasan berlanjut tersebut. Menurut dia, kepuasan diri ada berbagai jenis. Ada kepuasan spiritual, ada kepuasan ego alias egois, ada kepuasan ekonomi, dan sebagainya. Nah, untuk yang sudah mencapai kepuasan dengan banyak beribadah, maka hidupnya sudah di tahap spiritual. 

"Macam anak saya di Sipirok. Target hidupnya ingin jadi pendeta dan sudah terpuaskan karena sekarang sudah jadi pendeta di sana. Hidup mereka pun sehat selalu."

"Kalau Abang? Apa kepuasan rutinnya?"

"Aku ekonomi Pak. Aku sendiri puas kalau sudah mendapat target dalam sehari sekian rupiah, dari pelanggan. Tak peduli mau berapa kelurahan aku lewati untuk cari pelanggan, asalkan target tercapai."

"Oh begitu rupanya.."

"Iya. Bapak sudah paham kan? Setiap hari saya bersepeda bukan untuk cari sehat. Tapi untuk mendapatkan kepuasan dari hasil usaha ini, menjahit keliling. 

Aku kembali mengangguk sambil tersenyum. 

"Jadi kalau awak tengok, bahwa tren orang-orang bersepeda saat ini, untuk mencari kebugaran, ah kimak lah itu. Itu cuma ikut tren aja. Aku ini setiap hari bersepeda, tren atau tidak pokoknya gowes lah. Tapi kalau belum mencapai target, pulang tak bisa bugar pun. Jadi tak ada hubungan banyak yang bugar saat ini dengan tren bersepeda. Tapi mereka bugar karena memang sudah merasa cukup untuk merasa bugar, entah mungkin sarapan pizza dulu di rumah sebelum gowes, makan steak dulu, atau menganu anu dulu di rumah, pokoknya yang pasti bukan karena sepedanya."

"Hahaha, mantap kali Bang pandanganmu. Yang penting adalah ukuran diri ya."

"Iyalah Pak. Ada sepeda juga Bapak? Macam sepeda orang-orang di jalan itu?"

"Tak lah Bang. Aku tak senang bersepeda, aku senangnya olahraga lain."

"Nah itulah. Bapak bugar dengan cara sendiri kan? Bukan karena tren bersepeda."


Pada intinya, Bang Olan ini sepertinya ingin mengatakan bahwa janganlah hidup ini sekedar ikut-ikutan demi kepuasan semu. Apalagi memaksakan diri memiliki ini, itu, atau melakukan ini dan itu, karena didiorong oleh orang lain yang juga punya ini, itu, dan sedang tren melakukan ini serta itu. 

Cukup perhatikan indikator diri sendiri. Toh hidup cuma sekali dan bukan orang lain yang menikmati cara hidup kita. Tabik.

Post a Comment

0 Comments