Sering kali para peserta lomba foto berhasil membuat juri memilih konsep foto AIDA untuk lolos ke tahapan selanjutnya, semisal final atau semi-final. Karena ada dasarnya, AIDA adalah konsep persuasi yang cocok untuk pemasaran. Konsep ini berhasil, karena penjurian seringkali mengandung unsur persuasif (gambar mana yang menarik dan memikat saya selaku juri).
Namun untuk langkah selanjutnya yang lebih berat, misalnya kompetisi foto seni dengan tema bernuansa Nusantara yang harus dilalui dengan foto on the spot, konsep AIDA akan jadi tertinggal. Maka untuk mendapatkan kedalaman budaya, interpretasi, otentisitas, dan kecerdasan naratif —bukan hanya daya tarik visual, yang cepat, kerangka kerja selanjutnya harus membantu para juri melampaui sekadar menarik perhatian menuju penciptaan makna.
Coba gunakan metode konsep ROOTS yang dirancang khusus untuk fotografi budaya, dokumenter, dan seni. Apa itu ROOTS?
1. R (Relevance)
Apakah gambar tersebut benar-benar terhubung (relevansinya ada) dengan Nusantara? Bukan sekadar "ada objek tradisional ya itulah Nusantara" sehingga hanya jadi tontonan dangkal.
- Contoh foto bernilai relevansi yang lemah adalah foto kain batik acak.
- Contoh foto bernilai relevansi yang cukup kuat ialah seorang pengrajin tua mengajari pembuatan batik kepada seorang remaja. Ini menunjukkan transmisi budaya kuat.
Nah, sekarang anggap tidak ada perintah penyelenggara lomba untuk menghasilkan foto Nusantara dan kita memotret dengan konsep contoh di atas. Apakah orang akan melihat foto tersebut mewakili hebatnya Nusantara? Bila ya, maka kita sudah berhasil.
2. O (Originality)
Apa sudut pandang terbaru? Sebab sebagian besar peserta akan memotret penari tradisional, kuil, candi, pasar, atau orang tua dengan pakaian tradisional. Masalahnya, juri melihat puluhan foto seperti ini.
Maka dorong para juri ke arah:
- Perspektif yang belum pernah dilihat sebelumnya
- Perpaduan yang tidak biasa
- Interpretasi kontemporer
Misalnya:
Alih-alih memotret pertunjukan wayang, potretlah seorang anak yang menontonnya melalui layar smartphone, sementara pertunjukan sebenarnya berlangsung di latar belakang.
![]() |
| Foto contoh AI ChatGPT |
Itu menunjukkan sesuatu tentang tradisi yang bertemu dengan modernitas.
3. O (Observasi)
Di sinilah banyak fotografer muda gagal. Latih kesabaran kalian untuk menunggu:
- gerakan
- kontak mata
- interaksi
- ketegangan
- waktu yang tepat
Gambar yang secara teknis bagus tanpa momen yang menentukan, seringkali gagal. Tanya pada diri sendiri, "Saya perlu momen tepat yang membuat foto saya tak tergantikan sebab peristiwa hanya terjadi sekali."
Contoh:
https://www.instagram.com/p/DOJOoJ8klC1 atau klik ini
https://www.instagram.com/p/DJWeAXySnHY atau klik ini
https://www.instagram.com/p/CziMsx7rzqW atau klik ini
4. T (Tension)
Foto-foto kompetisi yang bagus biasanya mengandung konflik atau ketegangan visual atau emosional. Jenis konflik:
- konflik lama vs baru
- visualisasi sakral vs komersial
- hening vs gerakan
- pemandangan tradisi vs urbanisasi
Bagi Nusantara, hal di atas sangat kuat. Contohnya foto nelayan tradisional memperbaiki jaring dengan latar belakang cakrawala industri modern. Nelayan tradisional yang merajut harapan di tengah industri modern yang meninggalkan tradisionalitas. Foto seperti itu akan memicu diskusi.
5. S (Story)
Bisakah kita menjelaskan foto tersebut dalam satu kalimat? Jika tidak bisa, foto kita mungkin akan lebih bersifat dekoratif daripada bermakna.
- Contoh foto bercerita yang kuat, "Seorang nenek mengajari cucunya menenun, melestarikan kenangan lintas generasi."
- Contoh foto bercerita yang tidak bermakna, "Ini adalah pemandangan tradisional yang indah."


0 Comments