Advertisement

Main Ad

Masih Mau Makan Sirip Hiu?

Apa benar makan sirip hiu akan memberikan kesehatan bagi tubuh manusia? Bahkan katanya bisa memperpanjang usia? Sayangnya tidak satupun dari klaim tersebut yang didukung secara ilmiah. Dikutip dari Forbes, salah satu kontributornya yang juga ilmuwan perikanan dan kelautan dari New College of Florida, Curtin University, Melissa Cristina Márquez mengatakan bahwa khasiat memakan sirip hiu di Hongkong hanyalah berdasarkan pengalaman emmpiris saja. Secara ilmiah, tentang apa manfaat sirip hiu tersebut terhadap kesehatan manusia, masih belum jelas.


Malahan, menurut Melissa, dari beberapa studi ilmiah yang dipaparkan di dunia maya, terungkap bahwa di dalam daging hiu (termasuk siripnya) terdapat merkuri yang berbahaya. Namun, peneliti dari Florida International Univesity Ph.D. student Laura Garcia Barcia, mengungkapkan bahwa sirip-sirip hiu yang dijual di Hongkong, adalah sirip yang sudah diproses secara kimiawi. "Dan proses kimiawi yang dilakukan tersebut, sangat dirahasiakan. Kita harus cek itu. Karena proses tersebut memengaruhi konsentrasi merkuri di dalamnya," ungkap Laura.


Pada 2019 lalu, tim peneliti kolaboratif dari Amerika Serikat dan Hong Kong, memeriksa 267 sirip dari sembilan spesies hiu yang paling umum ditemui dalam perdagangan sirip. Mereka menguji masing-masing tingkat merkuri total (Hg) dan metil-merkuri (MeHg) -bentuk merkuri organik yang sangat beracun. 


Foto milik The Boston Globe


Kesembilan spesies itu adalah hiu biru (Prionace glauca), hiu sutra (Carcharhinus falciformis), hiu ujung hitam (terdiri dari empat spesies : C. limbatus, C. tilstoni , C. leiodon, dan C. amblyrhynchoides), kepala martil bergigi (Sphyrna lewini), kepala martil halus (S. zygaena), hiu banteng (C. leucas), hiu mako sirip pendek (Isurus oxyrhincus), kepala martil besar (S. mokarran) dan hiu samudra (C. longimanus).


“Hasilnya mencengangkan!” ungkap Laura. “Level merkurinya tinggi sekali. Bahkan 6 hingga 10 kali di atas rata-rata level aman kandungan merkuri untuk Hongkong.” Laura Garcia Barcia yang memimpin penelitian tersebut, menemukan kadar merkuri hingga 55,52 ppm (parts per million). Padahal seharusnya batas kadar merkuri yang telah ditentukan secara hukum hanya sampai 0,5 ppm. Jumlah tertinggi tersebut ditemukan pada jenis hiu martil besar. Maka dengan kandungan merkuri di atas 50 ppm tersebut, Laura menyimpulkan bahwa hiu-hiu tersebut berbahaya untuk konsumsi.



Atas dasar itu, agen-agen kesehatan dan yang terkait lainnnya, seperti European Commission (EC), the World Health Organization (WHO), the United States Environmental Protection Agency (EPA) dan the Joint FAO-WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), menyarankan supaya wanita hamil dan anak-anak tidak usah mengonsumsi sirip hiu. Karena akibatnya bisa hingga merusak syaraf utama otak, juga menyebabkan bayi-bayi lahir cacat seumur hidup.


Post a Comment

0 Comments