Malam itu, Mas Yudi sudah menyiapkan jas kasual yang bisa dipadu dengan celana jeans dan kaos. Ya, style-nya cowok bule bila sedang menghabiskan waktu di bar.
Para cowok bule, biasanya cukup mengenakan celana jeans, baju kaos, dan jas berwarna gelap (bisa coklat gelap, biru gelap, tapi jarang warna hitam).
Jadi, kalau misalnya ada pertemuan dadakan dengan cewek yang juga sedang 'gabut' di bar, lalu mereka akhirnya memutuskan kencan keluar, maka pakaian santai tapi resmi si cowok sudah pas. Begitulah style cowok bule.
Tapi, jas yang disiapkan itu bukan buat dia pakai. Tapi dia siapkan buat aku pakai. Lha kok bisa?
Oh ya, Mas Yudi adalah redaktur berita tulis di salah satu koran lokal di Surabaya dan aku adalah anak buahnya alias reporter untuk desk yang dia kelola.
Umurku masih 25 tahun waktu itu. Aku sendiri, sebenarnya baru selesai kontrak kerja dengan salah satu website berita terbesar di Indonesia kala itu.
Di tahun itu, si website sudah beroperasi sekitar 2 tahun, sejak diluncurkan pada 2001 lalu. Selesai kontrak kerja aku ditawari untuk menjadi jurnalis di website itu.
Tapi karena masih kurang PeDe menulis, maka aku mencoba peruntungan karir sebagai fotojurnalis ke luar Jakarta. Singkat kisah, dapatlah pekerjaan di Surabaya. Ya inilah kisahnya, yang akan kupaparkan dalam catatan kecil ini.
Di kantor, Mas Yudi melihatku dengan cara berbeda. Dia melihat caption foto yang aku buat (sebagai pelengkap informasi fotojurnalistik), sudah lengkap dan padat informasi.
Kemudian daya juangku dalam mengambil gambar jurnalisme, juga dia nilai sudah cukup baik. Sehingga meskipun dia bukan redaktur berita foto, tapi dia merasa bisa menugaskanku untuk membuat tulisan jurnalistik.
Kembali ke rencana penugasan buatku dari Mas Yudi, dia pun meminta izin ke redaktur berita foto (anggap saja nama Red. Foto itu adalah Mas Slamet) agar Mas Slamet rela menugaskan anak buahnya di bawah komando dirinya. Anak buah Mas Slamet itu tak lain adalah aku. Aku diminta Mas Yudi mencari informasi tentang hal tertentu. Dan menurutku, info yang sedang dicari Mas Yudi terlalu sensasional.
"Koen mengko gae jas iki, aku wis ngatur ambe' host e. Nah lalu, nanti kamu bawa kamera saku ini, dan foto seperlunya saja. Pergilah kamu ke resto XXX (nama resto saya samarkan, red) dan naik mobil Mas Chandra. Oh ya, koen ojok mekso ngomong pakai logat Jawa ya," pinta Mas Yudi dengan logat Suroboyoan yang kental.
Sengaja logat Jakarta asli yang dia minta keluar dari ucapanku. Logat yang sejak kecil sudah terucap dari mulut ini. Tujuannya, supaya aku dapat perhatian lebih besar dari para hadirin di event itu (event yang sepertinya spesial).
Di resto XXX itu, kabarnya, sedang ada acara peluncuran produk busana kelas atas. Ada belasan model yang beradu cantik dan pesona di acara itu, katanya. Jadi pantas saja aku diminta bawa kamera digital kecil ini supaya bisa meliput secara undercover.
Sebelum aku berangkat ke resto, Mas Yudi menyerahkan sepucuk surat undangan, sebagai pass card agar bisa masuk ke event tersebut. Event yang kemungkinan ekslusif, alias hanya tamu pemilik surat undangan yang boleh masuk. Sehingga kalau aku bawa kamera gede, dengan lensa sebesar termos, bakal rusak penampilan ber-jas ini.
Singkat cerita, di event itu ternyata memang acara yang undangannya terbatas. Seusai acara foto aku diminta Mas Yudi mencari seorang bernama Tante Liz (bukan nama asli), yang kemudian si tante itu membawaku menemui seseorang.
Oh ya, satu hal lagi. Sebelumnya di kantor, Mas Yudi memintaku untuk naik mobil keren milik bos perusahaan. Bukan jenis mobil penumpang seperti mobil sejuta umat, tapi sedan bertransmisi otomatis, seharga di atas Rp 150 juta di tahun 2004 itu.
Aku menolak. Tapi Mas Yudi memaksa, sebab ada kemungkinan aku akan kencan dengan seorang gadis dari acara itu. Aku pun sedikit terkejut dengan kemungkinan yang dia katakan itu: "kencan...".
Kujelaskan Mas Yudi, bahwa ini adalah bulan musim kemarau sehingga potensi hujan sangat kecil, sehingga lebih baik naik motor saja. Motornya pun bukan sekelas bebek tapi sporty premium.
Jadi, kalau pun nanti akan ada model cakep yang akan dikencani, bisa diajak jalan pakai motor super sporty milik sepupuku yang kebetulan ayahnya (suami bibiku) orang penting di Surabaya.
"Ya, mau motor sport, motor terbang sekali pun, tetap motor bukan mobil. Sudahlah kamu sudah paling cocok untuk tugas ini," jawab Mas Yudi dengan tegas. Ya sudahlah, akhirnya aku mengiyakan untuk bawa mobil mahal itu.
Adapun tugas dari Mas Yudi adalah supaya aku mendapatkan cerita dari seseorang perempuan, yang belakangan terungkap bahwa dia sukses mengubah hidupnya dari kehidupan yang buruk menjadi jauh lebih baik. Tapi mari simpan dulu kisah sukses tersebut.
Aku sebenarnya heran dari awal, saat dia membawakanku jas. Kenapa Mas Yudi memilihku? Padahal Mas Yudi sendiri orang yang tampan dan masih muda juga. Kurasa dia dan penampilannya tidak akan mengecewakan para gadis.
Meski sudah menikah, tapi kalau untuk menjalankan tugas ini, buat Mas Yudi sih mudah-mudah saja. Nah, tapi kenapa malah dia kasih tugas ini ke anak buahnya?
Kembali ke cerita lagi, seperti yang Mas Yudi bilang, ada seseorang bernama Tante Liz yang akan bertemu aku, untuk mengenalkanku dengan seorang gadis. Jadi Tante Liz di sini, ibarat hanya seorang liaison atau penghubung. Dan rupanya pula, gadis yang dikenalkan oleh Tante Liz ini, paras dan penampilannya luar biasa. Kulihat, dia bukan gadis seumuranku, tapi seorang wanita cantik berusia sekitar di 30 tahun.
Dia bukanlah salah satu dari gadis muda para model busana di event itu, yang aku kira sebelumnya bakal jadi kencanku. Tebakanku, wanita ini sepertinya dia usia 33-35 tahun.
"Kukira aku bakal disuruh kencan dengan salah satu gadis dari model-model itu. Ternyata kencanku adalah 'mbakyu' cantik ini. Dia pasti jauh di atas usiaku, meski secara fisik daya tariknya bahkan setara gadis muda 20 tahunan. Nah, terus mau gue empanin apa nih si mbakyu ini?" tanyaku dalam hati.
Kalau kuajak makan di tempat yang murah meriah, kuatirnya aku seperti merendahkannya. Tapi kalau makan di tempat mahal, dikira malah aku sok kaya.
Walau sebenarnya murah atau mahal makanan, sebenarnya tidak masalah. Karena semua biaya yang akan keluar dari kencan itu akan dibayar lagi lewat reimbursement kantor.
Namun, di sinilah letak inti ceritanya. Saat duduk di meja bar hotel itu, di tengah peragaan busana, perempuan cantik ini mengaku, dulunya punya nama panggung. Nama panggungnya yaitu "Puspahati" yang menurutnya berarti si penghibur gundah gulana.
Dia mengaku sudah memperhatikanku dari jauh. Aku pun merasa, "Oh, pantesan." Sebab tiba-tiba waktu itu ada sosok perempuan disampingku, sesaat usai peluncuran produk busana diumumkan secara resmi. Aku nggak ngeh, siapa dia, kok mendadak ada di dekatku. Dan dia kemudian dia hilang lagi.
Sampai akhirnya secara resmi dia dipertemukan denganku lagi lewat Tante Liz. Oh ya, perempuan ini suka dipanggil Puspa.
Setelah diperkenalkan Tante Liz, barulah aku dan dia duduk di depan meja bar sambil saling tatap dan melempar senyum. Sedangkan Tante Liz pamit pergi meninggalkan kami berdua, kembali mengurus peragaan busana.
Karena canggung, aku pun memesan minuman ke bartender, menawarkannya serta, lalu menyalakan kamera saku digital melihat hasil foto saat peluncuran produk busana tadi. Sedangkan Puspa, setelah kutawarkan pesan minuman dan menangguk, dia menatapku dengan wajah tenang. Tiba-tiba dia celetuk, "Selesai lihat fotomu itu, kita jalan yuk mas. Mumpung belum terlalu malam."
Suaranya terdengar lembut, merdu, meski di suasana yang cukup ramai. Dia tahu betul aku canggung. Aku pun menoleh ke arahnya dan berkata dalam hati, "Alamak cantik kali orang ini." Kemudian kumatikan kamera digital itu.
Sedikit basa basi, aku mencoba menawarkannya makanan ringan, tapi dia menolak karena merasa sudah bosan di tempat itu dan ingin segera keluar.
Akhirnya kubayar minuman yang sudah ditenggak dan kami pun pergi keluar bersama dari resto dengan event busana itu. Dari bayangan langkah kami berdua, yang muncul dari sorot lampu temaram resto, kulihat bahwa ternyata bayanganku dan bayangannya seperti bayangan dua sejoli.
Sebab tinggi badan murni dia mungkin sekitar 167 cm, dan bukan sepatu jenis hak tinggi yang dipakainya. Hanya sedikit sekali perbedaan tingginya dariku, yang 171 cm. Kalau saja dia pakai hak tinggi, aku yang bakal dibikin tampak kuntet beberapa sentimeter olehnya.
Tubuhnya langsing, mengalahkan body goals beberapa model busana di acara itu. Tapi herannya, kenapa dia tidak ikut dalam jajaran model cantik yang memperagakan busana di acara itu? Karena secara overall penampakannya masih aduhai.
Kembali ke langkah kami meninggalkan resto, kami pun berjalan menuju parkiran, menuju ke mobil milik Mas Chandra yang dipinjamkan kepadaku. Di mobil, Puspa tiba-tiba meminta agar dia yang menyetir mobil. Aku sempat ragu untuk mengabulkan maunya dia. Tapi dia meyakinkanku bahwa dia sudah mahir di belakang kemudi dan punya SIM A. Dan juga, katanya, dia paling suka menelusuri jalanan di indahnya malam naik mobil. Ya, sudah kalau begitu, aku pun memberinya jok kemudi dan aku pindah ke sebelahnya.
Waktu tampak menunjukkan pukul 20.00 lebih sedikit. Kami meluncur pergi dari resto. Rute yang dia ambil ternyata ke arah Sidoarjo, terus menuju ke arah Malang.
Perjalanan malam yang kami tempuh sejatinya hampir sekitar 1,5 jam. Tapi akan aku kisahkan pelan-pelan.
Sambil nyopir, kuperhatikan lekuk pinggulnya, busung dadanya, dan kaki jenjangnya, dari arah sampingnya. Alamak! Lelaki mana yang tidak 'tegang'. Si Puspahati mengungkapkan bahwa dia dulunya adalah pelacur. Ya, pelacur. Tapi yang kelas atas. Dia melayani 'tamu' pun bukan hanya di Surabaya, tapi hingga ke Bali, bahkan luar negeri.
Saat sudah hampir 1 jam dia mengemudi, dia menyerahkan sebuah penutup mata seperti sleeping cover. Aku diharuskan mengenakan itu. Dia tampak memaksa dengan ungkapan manja. Akhirnya setelah mengenakan selubung mata itu, aku pasrah, mempercayakan dia menyetir sampai tiba di tujuan.
Mobil mulai terasa seperti berjalan menanjak. Jalanan yang dia tempuh seperti tidak rata atau berbatu. Sekitar 20 menit kemudian Puspa akhirnya memberhentikan mobil. Aku diminta membuka selubung mata dan ternyata, kami sudah di depan sebuah rumah cantik di tengah kawasan rimbun. Aku melihat suasananya bernuansa² kawasan hijau rimbun, walau bukan hutan.
Agaknya, kami ada di pertengahan antara Surabaya-Malang, entah di mana persisnya. Yang pasti tempat ini tampak akan indah bila pagi hari tiba. Ukuran rumahnya pun cukup besar, mungkin bisa dibilang rumah tipe 70 bukan tipe 45, apalagi tipe 36, dan mustahil tipe 21. Lokasi rumah satu dengan lainnya cukup berjauhan seperi antar cottage di tempat wisata.
Di rumah itu, ternyata Puspa hidup bertiga, yaitu dia dan dua orang pembantu; perempuan dan laki-laki. Kedua pembantunya pun tampak berusia tidak jauh beda dengan Puspa. Wajah dan penampilan pembantunya juga not bad yakni paras manis bagi si perempuan dan perawakan tinggi langsing bagi si lelaki.
Singkat cerita kemudian, Puspa saat ini adalah pengusaha fashion yang sukses, setelah hampir 5 tahun sebelumnya dia berkutat dengan 'lendir' kenikmatan.
Terungkap, bahwa bukan lantaran motif ekonomi, si Puspa menjadi pelacur. Sebab, selepas lulus SMP di Jember, dia ikut ayahnya --yang merupakan pria keturunan New Zealand, yakni melanjutkan SMA di Australia.
Ibunya berdarah Manado. Tapi keduanya sudah cerai. Puspa sendiri tidak tampak seperti bule walau ayahnya bukan orang Indonesia. Wajar saja, sebab sang ayah adalah asli Polinesia. Sehingga Puspa tak ubah seperti orang Indonesia yang cantik dan eksotik.
Kecantikannya, memang berdasarkan garis rumpun orang Oseania yang mirip dengan orang Melayu. Di saat sekolah hingga lulus kuliah, yakni pada jenjang diploma perhotelan di Australia, di sanalah dia mulai mengenal dunia seks dengan pasangan.
Saat kuliah, dia punya kekasih dari Bali yang menurutnya sangat romantis. Hingg akhirnya, mereka berdua hidup satu rumah alias kumpul kebo di Australia.
Kekasihnya, kuliah sarjana di jurusan bisnis. Usai keduanya lulus kuliah, mereka sering melakukan perjalanan bisnis keliling dunia. Sang kekasih sebagai master mind bisnis, dan Puspa sebagai penjamu klien. "Karena akulah rahasia sukses pacarku. Aku 'melayani' investor dan pacarku yang mengelola duitnya sehingga bisnis bisa menggurita. Dan aku jadi sangat menikmati seks, sehingga aku sangat enjoy," ujarnya.
Saat Puspa memutuskan huhungan dengan pacarnya, dia memulai 'karir- sebagai pelacur high class karena ingin mengejar kenikmatan seks. Bahkan ketika tidak berhubungan seks dalam sepekan, Puspa mengaku tidak tenang tidur dan kepala pusing.
"Nah, kalo udah gitu, aku three-some di rumah ini," ungkapnya. Aku langsung berdebar menelan ludah. Saat mengatakan itu, Puspa memasang senyuman di wajahnya, seperti hendak menggoda sambil jari tangannya memainkan rambutnya.
"Tapi kamu ngga usah kuatir yaa, aku ngga sembarangan nerima pel*r kok," ungkapnya. "Kamu itu manis juga. Dan memang anak manis. Aku ngga akan menodaimu kok."
Dari paparannya, Puspa ternyata sudah terjerat kelainan psikis yang berkaitan dengan birahi. Itulah yang membuatnya memilih jadi pelacur untuk para hidung belang kelas atas. Dan sejak itu, menurutnya uang sudah tidak perlu dicari. Justru uang yang mengejarnya hingga berlimpah, lantaran pelanggannya banyak.
Begitulah seterusnya hingga dia perlahan berjuang untuk keluar dari dunia 'tumpahan lendir' lantaran menemukan celah bisnis di ranah fashion.
Walau begitu, Puspa mengaku tetap tidak bisa jauh-jauh dari seks. Tebakanku pun tepat, ketika aku tanya, apakah kedua pembantunya itu budak seks dia? Dia menganggukkan kepala.
Selanjutnya....
Maaf para pembaca, cerita lengkap tulisan ini sudah pernah terbit di salah satu koran lokal Surabaya tahun 2004. Jadi aku tidak menceritakan ulang, hanya sekilas saja untuk berbagi kisah masa muda. Selamat beraktivitas.



0 Comments