Aksi bela Palestina yang telah berlangsung di seluruh Indonesia sejak tiga pekan ke belakang, sebaiknya mulai semakin mengerucut tuntutannya. Bukan lagi hanya sebatas mengutuk tindakan Israel secara agregat yang menyebabkan lebih dari 11 ribu orang meninggal, serta penggalangan dana bantuan. Namun sudah terfokus kepada menguliti fakta kejahatan perang yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Pasalnya, Presiden Amerika Serikat, Joseph R. Biden, hari ini telah memberi solusi bagi Israel tentang wilayah Gaza dan Tepi Barat, agar dibawah Otoritas Palestina (PA). "Saat kita berjuang untuk perdamaian, Gaza dan Tepi Barat harus dipersatukan kembali di bawah satu struktur pemerintahan, yang pada akhirnya berada di bawah Otoritas Palestina yang direvitalisasi, ketika kita semua bekerja menuju solusi dua negara," tulis Biden dalam artikel yang diterbitkan di The Washington Post, dilansir AFP, Minggu (19/11/2023), mengutip dari CNBC Indonesia.


Gambar: alianzaporlasolidaridad.org


Namun Netanyahu menilai bahwa bentuk Otoritas Palestina saat ini tidak mampu menerima tanggung jawab atas Gaza. Sehingga Israel masih harus mempertahankan “tanggung jawab militer secara keseluruhan” di Gaza “di masa mendatang”. Tapi apakah opini Netanyahu tersebut merupakan alih-alih bagi dirinya untuk tetap melakukan tindakan kekerasan terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat dan Gaza? Inilah yang patut terus dituntut oleh aksi-aksi pembelaan terhadap Palestina.

Pasalnya, sangat jelas tampak, apa yang telah dilakukan Netanyahu. Pria yang berutang dukungan kepada partai Zionisme Agama tersebut --lantaran telah kembali terpilih menjadi PM Israel, telah sering melakukan serangan terhadap penduduk sipil tak bersalah di Gaza, dengan alasan demi menumpas gerakan para pejuang Hamas. Namun tak hanya melakukan pelanggaran aturan peperangan pasca peristiwa 7 Oktober 2023 saja, Netanyahu bahkan juga melakukan kekerasan terhadap penduduk sipil Palestina jauh sebelum peristiwa 7 Oktober.


AI illustration of Benjamin Netanyahu



Pihak Hamas, melalui juru bicara sayap militer Brigade Al Qassam, Abu Ubaidah, menegaskan bahwa serangan 7 Oktober 2023 lalu merupakan jawaban atas banyaknya intimidasi pihak Israel terhadap kesucian Al Aqsa. Karena itulah aksi 7 Oktober 2023 dinamakan Operasi Badai Al Aqsa yang dinilai sebagai sikap tegas dari Hamas kepada akumulasi kelakuan pihak zionis Israel selama ini. Netanyahu tampak masih ingin melakukan kekerasan di Palestina bahkan genosida, yang entah sampai kapan. Padahal, sekutunya sendiri Amerika Serikat telah memberi solusi.

Sebelumnya Cina, menyerukan solusi two-state solution demi mengakhiri konflik di Palestina. Duta Besar Cina untuk PBB, Zhang Jun, mengatakan pihaknya menegaskan solusi bagi Palestina. "Tragedi harus diakhiri. Maka Cina bersepakat mendorong beberapa hal, yakni semua hal fundamental harus dikembalikan ke Palestina. Kemudian two-state solution harus didorong, dan biarkan rakyat Palestina menentukan masa depannya," ungkap Zhang Jun di markas PBB, New York, pada 17 November 2023.